Postingan

Menampilkan postingan dengan label Soal Rasa

Slow Response

Gambar
Pernah ga kalian mengalami sebuah kejadian atau momen, sampai keesokan harinya kalian masih ga yakin itu terjadi bahkan sampai berbulan-bulan berlalu kalian masih ga yakin itu kejadian. Atau pernah ga kalian mengalami suatu kejadian epic  trus secara realtime  kalian menghadapinya dengan gagah berani dan cool , tapi waktu kejadian epic  itu berlalu dan kalian tinggal dengan diri kalian sendiri di waktu yang berbeda, barulah fungsi sistem limbik kalian terstimulasi kenangan pada kejadian epic itu dan diri jadi ga karuan menghadapinya sendirian? Kalo di antara kalian ada yang demikian, syukurlah, artinya saya ga sendiri.  Engga curhat sih, engga salah maksudnya. Tapi, seperti biasanya, kehidupan ini setiap harinya menyadarkan bahwa Allah SWT mengajari kita sesuatu. Sehingga selama menjalani usia 20 tahun-an saya punya kesimpulan soal takdir yang Allah tetapkan pada kita..... Takdir (bagi orang beriman) adalah rangkaian cinta yang Allah sediakan bagi ...

Lampu Hijau

Gambar
Apa arti lampu hijau bagimu? Kelapangan, jalan, melepas rem perlahan, menekan gas lebih dalam, memutar tuas gas lebih banyak? Bagiku, arti lampu hijau adalah bersiap pada lebih banyak ragam kejutan dariNya. Entah bagaimana rasanya? Entah ada apa di depan jalan sana? Apakah kali ini lampu hijau sungguhan? Semoga aku mengendarainya dengan patut.  Bagaimana perasaanmu saat melihat lampu hijau?

Mengurangi Ekspektasi

Gambar
Setelah 3 bulan lalu ombaknya sempat surut dan tiba2 berubah jadi tsunami, akhirnya hari ini ombaknya bisa kembali tenang. Ekspektasi biasanya saya ibaratkan ombak, bisa surut, bergelombang, kadang seperti tanggal 16 kemarin. Menjadi tsunami persis ketika aku mengira surut artinya reda.

Tak Pernah Cukup, Tak Pernah Habis

Gambar
Assalamualaikum bulan Mei. MasyaaAllah Ramadhan kali ini di mulai 5 hari lagi dan di awal Mei. Rasanya senang tapi sedih tapi penuh syukur.  Tiap kali menyendiri sambil bermuhasabah pada kehidupan yang sudah dilalui, hampir selalu air mata tumpah.  Tumpah untuk semua kebaikanNya yang tak pernah alpa.  Tumpah untuk semua dosa yang setiap hari selalu ada. Tumpah mengingat mati yang tak tahu kapan. Tumpah mengingat kefuturan diri karena keluh kesah. Tumpah karena kecewa pada diri sendiri. Tumpah karena melawan diri sendiri susahnya minta ampun.  Tumpah karena rasa syukur padaNya yang tak pernah cukup untuk ditunjukkan. Lima hari lagi Ramadhan datang, Lima hari lagi bulan penuh cintaNya hadir. Semoga Lima hari lagi masih sempat aku rasakan. Semoga Lima hari itu lebih banyak langkah-langkah kebaikan yang menyertai sehingga diri sudah cukup bersih menyambut bulan Ramadhan.  ÙŠَا Ù…ُÙ‚َÙ„ِّبَ الْÙ‚ُÙ„ُوبِ Ø«َبِّتْ Ù‚َÙ„ْبِÙ‰ عَÙ„َÙ‰ دِينِÙƒَ Ya M...

Datang dari mana?

Apa hal yang paling sulit kita sampaikan saat ini? Permintaan maaf dari rasa bersalah? Rasa keberatan ? Menyampaikan rasa bangga pada anak? Menyampaikan selamat pada lawan? Hmm, setiap orang mungkin berbeda2 ya kesulitannya.  Setiap perasaan biasanya datang dari sebuah alasan atau kejadian. Dan, setiap perasaan selalu datang karena izin Allah meskipun bisa juga semua perasaan itu datang dari nafsu belaka saja. Termasuk perasaan kagum dan suka.  Jika perasaan marah datang dari Allah, maka tentu kemarahan itu datang karena hal2 yang tidak Allah sukai. Karena jika kita marah karena kesuksesan orang lain atau sikap orang lain yang sekedar tidak sesuai harapan kita, maka mungkin datangnya dari nafsu saja.  Jika perasaan sedih datang karena melihat sesama muslim terjerumus maksiat atau karena melihat ciptaan Allah teraniaya tangan-tangan manusia. InsyaaAllah datangnya dari Allah. Tapi jika sedih karena artis favorit kita gagal datang konser. Sedih ...

Tanyakanlah

Malam, kenapa ya? Padamu ada bintang yang kecilnya sebesar titik hitam di bukuku... tapi terang sekali. Indah seperti kilauan mentari yang memantul di cerminku. Tau tidak? Sepi itu adalah jarak. Antara aku dan bintang ada sepi. Karena kita berjarak. Tapi aku bisa melihat bintang. Meskipun sepi. Penasaran tidak? Aku iya. Menunggu sampai tidak sepi. Tau kan maksudku? Tapi, kata panutanku, sabar tak berbatas. Aku jadi malu untuk merengek, walaupun sambil nangis sih. Malam, sekarang aku tau. Kamu tidak abu, buktinya waktu ke Jepara dan Sumatera Barat kamu gelap. Hitam. Mungkinkah karena Depok masih bersedih, dia jadi kelabu? Atau bukan? Malam, lain kali kita bicara ya. Tanyakan saja apapun... aku suka..

Angkasa

Tinggi. Mungkin itu adalah deskripsi yang sesuai untukmu. Aku bisa menatapmu dengan tatapan yang sendu sambil kemudian tersadar rintik hujan membasahi. Kamu, indah kala mentari terbit dan tenggelam. Cerah kala siang menyongsong. Mengingatkanku bahwa bahagia itu ada. Rintik yang membasahiku kala tatapan sendu memandang langitmu yang kelabu, menyadarkanku ada luka tersimpan di sana. Ada sepi yang melanda dan mewarnai. Akupun, turut merintikan hujan. Jika ada hal besar yang ingin aku lakukan, itu adalah melihat cerah dan indahmu. Mengobati luka dan mengisi sepimu. Luas. selalu kulihat luas dirimu. sembari burung berterbangan di atas sana dan cahaya mentari menari di antara rindang pepohonan. Kamu, andai aku mampu menyentuh tinggi dan luas itu. Ingin kuhadiahkan pelukan terhangat milikku.

Tak akan lama

Gambar
Puluhan pertanyaan menghujam pikiran dan menusuk keji hati. Langkah kaki yang mantap perlahan melambat lalu diam. Jika ada yang harus memekik berat mungkin ia adalah hati. Kenapa? Entahlah. Angin malam yang ramai bertambah ramai dengan bunyi-bunyi mobil dan sirene. Di luar sana pastilah begitu banyak kesibukan yang mengalir. Tak perlu di luar, bahkan di dalam sini banyak pekerjaan yang menunggu untuk diakhiri. Sayang sekali, hati yang ramai membuat pekerjaan berat terasa tak lebih berat dari batu yang menumpuk di hati. Atau malah untung? Hmm sudahlah. Menyelesaikan perkara pikiran jauh lebih mudah dari perkara hati. Seringnya terlalu rumit berbelit. Membuat sulit mencari ujung benangnya. Tapi bisa, tentu saja perlu yakin kalau ujungnya akan ditemukan. Entah kapan. Bila diujung timur ada yang merasa berat, percayalah ujung barat turut merasa berat. Hati tak milik satu pihak. Tapi tak berhak langit dan bumi dipersalahkan. Pastilah setiap nafas sudah saling mengusakan dengan ...

Rindu

Hai malam, hai lagi Langit malammu selalu tampak abu, Depok Kenapa? Padahal aku merindu si bintang Iya, bintang yang kalo kita liatin suka ngedipin kita Kalo langitnya abu, aku jadi susah liat Tiba-tiba jadi inget Jepara, malamnya Dingin dan gelap Tapi aku bisa ketemu si bintang, bahkan banyak Bikin leher sakit karena terus mendongak Aku jadi rindu, iya yang rasanya menghangatkan hati Apa tuh nama lainnya? Kangen Aku kangen langit, kangen dihibur kedipan bintang Bareng angin dingin yang bikin inget sesuatu Apa coba? Cuma aku sih yang tau, sama Allah juga tau. Tau kalo merindu itu seru tapi capek. Allah, cuma rindu Allah yang ga capek. 

Catatan akhir kampus 1

Gambar
Salah satu cara menuangkan gejolak pikiran yang mendidih adalah dengan menulis. Menulis kemudian menjadi hobi yang menghibur perasaan cemas atau gelisah yang melanda. Bagiku, menulis menjadi suatu hobi sekaligus obat. Tahapan kehidupanku detik ini berada di akhir tingkat empat di kampus. Ini menandakan bahwa masa-masa wisudaku harus segera terlaksana dalam jangka waktu beberapa bulan lagi. Syukurlah aku sudah melewati seminar hasil dengan cukup baik. Masa ini adalah di mana aku menyadari bahwa Allah memang senang memberikan kejutan bagi hambaNya. Banyak hal-hal tak terduga yang Ia izinkan terjadi padaku. Salah satunya adalah diterima sebagai staff pengajar di sekolah karakter, tepatnya di Indonesia Heritage Foundation. Tempat ini dulunya adalah tempat magang selama sebulan, tidak aku sangka akan menjadi guru SD di sekolah ini bahkan sebelum aku sidang hasil skripsi. Sebenarnya ini menjadi tantangan tersendiri. Jujur saja sebenarnya ada perasaan ingin bersenang-senang dulu, namun ...

Berlari mengejarmu/Mu?!

Untuk postingan malam ini, sejujurnya saya tulis dalm kondisi padat merayapnya tugas. Hari ini adalah sabtu penuh cerita. bukan karena sekedar ada moment "something" di pagi harinya, tapi karena memang banyak cerita sampai ke malam harinya. Selama seminggu ini sejujurnya banyak sekali hal yang dipikirkan, direnungkan, disesalkan, dan yaaaaa,, katakan saja minggu ini adalah minggu goyah. Beberapa hari yang lalu aku tersadar bahwa aku rasanya telah jauh dariMu. Mengenang betapa setiap amalan ibadah yang aku lakukan rasanya agak sedikit hambar walaupun akhirnya beberapa hari yang lalu berhasil bergetar hati ketika namaMu terlantun ditelinga dan meleleh air mata ketika mengingat misi seorang khalifah di muka bumi.

Melihatmu

Kemarin aku bekukan pintu jalanmu. Ku tinggalkan, sungguh ku tinggalkan pintu itu dalam keheningan, kebekuan, dan debu. Tak pernah terpikirkan untuk suatu saat nanti aku sentuh. Hingga kemudian matahari terbit pada sisimu, mencairkan kebekuan pada pintu jalanmu. Entah atas alasan apa kubiarkan matahari mencairkan beku pada pintu itu.  Debu di pintu itu perlahan sirna oleh luberan air, perlahan beku itu mencair, membersihkan dengan sendirinya pintu yang kutinggalkan beku dan berdebu. Kini pintu itu tak lagi beku, tak lagi berdebu. Kemudian aku tersadar bahwa pintu itu siap terbuka, tapi aku masih membiarkannya dalam keheningan. Sadar tapi tak ingin, melihatmu datang dri pintu itu kini menjadi hal yg mungkin.  Entah kemudian apa yg membawaku berjalan menuju pintu jalanmu. Memberikan sedikit suara dan tak lagi membiarkannya dalam kehening. Pintu itu kini bersinar oleh pantulan matahari, berkilau oleh embun2 harapan. Meski tak kupahami betul apakah takdir yang akan datang...

Ketika momen-momen itu tiba.

Sebagai seorang manusia dalam usia dewasa awal, maka terasa wajar apabila begitu serius membicarakan masa depan. Keseriusan akan obrolan ini semakin terasa hangat apabila dikerucutkan dalam topic pasangan masa depan. Mari kita kutip satu bait sebuah lagu tulisan kang abay “Namamu rahasia, tapi kau ada di masa depanku”.  Ah, kalimat itu memberikan suatu kepastian yang tidak pasti bukan? Membicarakan perasaan cinta kemudian tidak akan terasa membosankan apabila yang berbicara dan yang mendengarkan sedang mengetahui rasanya. Perasaan yang berbagai macam jadi satu, senang, gelisah, khawatir, itulah bagaimana aku mendeskripsikan rasanya. 

Pelayar Angin

Hembusan angin mendarat tepat di kepalaku Mengelusku dengan lembut dan memejamkan mata yang lelah Aku tau ini bukan lagi saatnya Bukan lagi masanya Sudah usai jauh dari yang aku sadari Bahkan hingga kau datang kembali Hujan yang rintik bersamaan hadir dengan angin lambat lalu cepat menghujam tubuh sedikit lalu terus bertambah banyak menyiramiku Anginnya tak biasa, terus dan terus datang Melawanpun aku tak mampu Laripun tak mungkin Seandainya kau lihat aku di sini Melihatku dan merasakan apa yang aku rasa Menyambut tanganku Lalu menarikku dari tempat ini

Tak akan Habis

Gambar
Malam Sabtu, seperti biasa jumat adalah hari yang tak pernah lepas dari kejadian langka dan unik. Hari ini aku teringat kembali pada masa-masa sulit itu, hari ini aku menangis lagi pada jam-jam malam yang mulai melarut. Ketika aku ingat semua beban itu aku merasa seperti kapas seberat 10 ton yang tercelup air, entah mengapa aku tatakan semua kenangan itu seperti aku menatakkan kartu-kartu UNOku saat bermain. Tapi setelah itu aku jadi malu. Tak mungkin semua tepian pada ujung gelap itu akan kucecerkan, harus ada bagian dari diriku yang menyelesaikannya dan menenangkannya dalam tidur keabadian. Semakin aku tutup mata ini rasanya semakin jelas rasa cinta itu, tak akan habis. semakin aku rasakan semakin banyak rasa terimakasih itu dan tak akan habis. CintaMu padaku belum bisa ku balas dengan rasa syukur yang berlimpah, aku kecewa. Maafkanlah mereka, maafkanlah diri ini. Wahai jiwaku yang sangat berharga, maafkanlah masa-masa itu dan para pelakunya, maafkanlah dirimu.

Pelik

Kelabunya langit senja sama seperti kelabunya fajar tak pernah ada kata yang bisa kuucapkan lemah saatku bersamamu jauh... jauh... dan semakin jauh. semakin jauh aku melihat ke depan semakin banyak lembar yang aku intip ke belakang warnanya tak pernah pudar di bilik kehangatan celotehnya memang tak lagi ku dengar, tak lagi ku rasa Kau, atau biarlah ku sebut kalian. seperti yang kukatakan waktu tak akan menunggu mungkin ia akan menyeretmu dalam keniscayaan waktu telah jauh terlewat meski rasa itu masih bisa tersisa langit biru tentu akan berjalan perlahan melewati dinding bumi berganti... berganti.. berlalu... dan berubah... Terimakasihku tak akan cukup sebagai bingkisan  maafku tak akan cukup menutupi luka  tapi izinkan ku jadikan senyum ini perban penutup luka yang menganga izinkan aku untuk memeluk lagi hangatnya cerita kita dalam lingkaran bisakah... bisakah...? Fajar menyingsingkan lengannya, membuka tabir kenis...
Terkadang,,,, Ketika masalah muncul, berusaha tersenyum malah membuatmu semakin ingin menangis, semakin berusaha untuk tersenyum pada masalah kadang membuatmu semakin sesak hingga air mata memaksa keluar dari mata mungil ciptaanNya. Tapi,,, semakin kita mengingatNya dalam tiap pedih ujian ini, maka semakin kita bersyukur pada masalah yang datang.  Pada dasarnya, manusia memang senang untuk berkeluh kesah, bahkan untuk hal sepele yang tak perlu disebutkan. Bukan, mengeluh itu tidak salah, tapi cobalah lihat pada siapa kita sering mengeluh?? Kawan apapun cobaanmu hari ini, apapun kendalamu dalam menjalani hari ini, cobalah kawan.... tersenyumlah pada hidup yang telah Ia tentukan ini, meski kita tahu hidup tak selalu mudah untuk dinikmati, cobalah sesekali kau siap untuk jatuh, siap untuk gagal, karena hidup bukan hanya cerita soal menang ataupun sukses. Untuk setiap hati yang sedang merasa risau dengan telaganya, untuk setiap hati yang sedang berjauhan dengan ...

Let's Go, (jangan buat Allah menunggu) !

Gambar
Bismillahirrahmanirrahim, Alhamdulillah akhirnya bisa bercengkrama lagi dengan blog yang entah mengapa kubiarkan sepi dalam ramainya masalah (maksud??!). Besok emang masih TO. Besok emang TO terakhir. Jadi harapan besok adalah agar sisa-sisa darah penghabisan ini menghasilkan sesuatu yang lebih nyaman dijalani dengan lebih mengenakkan jiwa.  Rohis, apakabar? Adik-adik, apa kabar? Bagaimana perjalanan dakwah kalian dalam beberapa bulan awal ini? aku merindukan masa-masa kelas 2, di mana kesibukan bukanlah masalah berarti, di mana padatnya jadwal rapat bukanlah masalah. Hai pengurus lama (angkatan 2009/2012) tidakkah kalian juga merindukannya? Bagaimana dengan mentoring kalian? semoga kalian tetap mengencangkan sabuk pada mentoring kalian yah, agar sekuat apapun badai iman yang datang kalian tetap berpegangan tangan satu sama lain untuk saling mengingatkan, saling menguatkan, saling menarik dari kemaksiatan. Tak ada mentor bukanlah masalah besar rasanya, bukankah banyak media di...

Allah(?!)

Allah, izinkan bibir ini menggariskan senyum selama yang aku mampu Allah, izinkanlah bola-bola ilmu itu terus berputar untukku Allah, izinkan aku tuk memohon ampun atas segala khilaf Allah, izinkan aku tetap menomor 1 kan Engkau di sini (hati) Allah, bukankah segalanya telah Engkau rencanakan? Allah, bukankah masih bisa aku berikhtiar? Allah, jadikanlah aku, dia, mereka, dan kami mampu..! Allah, begitu lembut zatMu Allah, tetaplah di sisi kami! Allah, jangan tinggalkan kami! Allah, buatlah kami mampu atas izinMu. Buatlah kami dan kita semua mampu menghadapi segala kegelisahan ruhiyah, jiwa, dan hati.  Allah, jadikanlah jiwa ini mengutamakanMu di atas segalanya, mendahulukanMu di atas segalanya Allah, begitu indahnya Engkau, Allah, begitu dahsyat kekuatanMu, Allah, begitu Maha berkehendaknya Engkau atas segala. Allah. Allah. Allah. ALLAH, terimakasih atas segala, semua, seluruh nikmatMU.... (^_^)

Cinta?! (again) Bosen? (baca aja)

Gambar
Kenapa harus memiliki alasan untuk mencintai? Tentu saja harus ada, bukankah sama halnya dengan kita mencintai sang Khalik? Bukankah kita mencintaiNya karena Ia adalah sang Kuasa? Bukankah kita mencintaiNya karena begitu banyak nikmat yang telah Ia limpahkan pada kita? bukankah kita mencintaiNya karena begitu banyak kasih sayang dan Rahmat yang telah Ia curahkan untuk kita? dan begitu banyak alasan yang harus dijabarkan berkaitan dengan mengapa kita harus mencintaiNya atau mungkin terlalu banyak. Lihatkan? bahwa ada kata "karena" yang menghiasi jawaban dari mengapa kita mencintai sang Khalik di atas segalanya. bukan jawaban "aku tidak tahu/entahlah/tak perlu alasan untuk itu" yang terjabarkan kan?.