Slow Response

Pernah ga kalian mengalami sebuah kejadian atau momen, sampai keesokan harinya kalian masih ga yakin itu terjadi bahkan sampai berbulan-bulan berlalu kalian masih ga yakin itu kejadian.

Atau pernah ga kalian mengalami suatu kejadian epic trus secara realtime kalian menghadapinya dengan gagah berani dan cool, tapi waktu kejadian epic itu berlalu dan kalian tinggal dengan diri kalian sendiri di waktu yang berbeda, barulah fungsi sistem limbik kalian terstimulasi kenangan pada kejadian epic itu dan diri jadi ga karuan menghadapinya sendirian?

Kalo di antara kalian ada yang demikian, syukurlah, artinya saya ga sendiri. 

Engga curhat sih, engga salah maksudnya. Tapi, seperti biasanya, kehidupan ini setiap harinya menyadarkan bahwa Allah SWT mengajari kita sesuatu. Sehingga selama menjalani usia 20 tahun-an saya punya kesimpulan soal takdir yang Allah tetapkan pada kita.....

Takdir (bagi orang beriman) adalah rangkaian cinta yang Allah sediakan bagi hambanya. 

Sehingga karena begitu besar kasih sayang Allah kepada hambanya yang beriman, Allah berikan berbagai kejadian, pengalaman, kenalan, keadaan, yang akan menjadi pembelajaran dan bekal bagi seorang yang beriman, orang-orang yang bertafakur pada kehidupannya, agar kelak bekalnya cukup menuju kampung halaman yang sejati, Akhirat.

Contoh kecil buat saya, yang sampai hari ini juga ga percaya kalo itu udah berlalu dan bisa dilalui. Di terima di IKK lewat jalur ujian tulis (SNMPTN tulis) dan lulus IKK tahun 2016. Sehari sehabis mengalami 2 kejadian itu, saya masih ga yakin, bahkan sebulan setelahnya masih tersisa euforia yang telat muncul. Padahal saat real time pengumuman penerimaan dan real time keluar ruang sidang, ekspresi dan perasaan cuma flat, kayak "ohh" udah. Tapi besoknya, baru yang hebring, rusuh, terharu, bersyukur banyak-banyak, telat mbak.

Allah, CintaMu seringkali menenggelamkanku, sehingga kala malam tiba tangisku meraung hening karena malu pada pengkhianatanku atas nikmatMu dengan dosa-dosaku.

Dewasa itu memang penuh luka, seperti saat kita belajar naik sepeda dan terjatuh berkali, seperti saat kita belajar menulis huruf dari tidak terbaca menjadi terbaca, seperti saat kita belajar membaca dari sekedar mengeluarkan bunyi huruf lalu letih mengulang kata hingga paham. Maka dewasa adalah belajar memahami keadaan, prioritas, dan menguatkan hati pada apa yang sudah terjadi, sedang terjadi, dan yang belum terjadi. 

Besok, perasaan apalagi yang akan telatku respon?? Mari kita fokus saja pada buku penghubung, rapot, pelatihan, seminar, tunggu.... apalagi? Oke mari kita cukup lakukan saja.  

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!