Berlari mengejarmu/Mu?!
Untuk postingan malam ini, sejujurnya saya tulis dalm kondisi padat merayapnya tugas. Hari ini adalah sabtu penuh cerita. bukan karena sekedar ada moment "something" di pagi harinya, tapi karena memang banyak cerita sampai ke malam harinya. Selama seminggu ini sejujurnya banyak sekali hal yang dipikirkan, direnungkan, disesalkan, dan yaaaaa,, katakan saja minggu ini adalah minggu goyah.
Beberapa hari yang lalu aku tersadar bahwa aku rasanya telah jauh dariMu. Mengenang betapa setiap amalan ibadah yang aku lakukan rasanya agak sedikit hambar walaupun akhirnya beberapa hari yang lalu berhasil bergetar hati ketika namaMu terlantun ditelinga dan meleleh air mata ketika mengingat misi seorang khalifah di muka bumi.
Aku berusaha mencerna apa yang membuat aku sekiranya terulur menjauh dariMu? dan akhirnya kutemukan. Aku melanggar beberapa aturan yang sebenarnya sudah dan selalu aku taati. aku melanggarnya dengan penuh kesadaran akan pilihan yang aku lakukan dan nafsu membenarkan pilihanku karena memang sifat nafsu manusia yang picik. aku melanggar sesuatu dengan tujuan makhlukNya. Nafsu membenarkan dengan segala alasan tugas dan bla bla bla. Sedangkan hati terpuruk melarat karena kalah oleh nafsu kemudian berpura-pura tak merasa bahwa ia perih diujung pengasingan nafsu. Ahh, katakanlah pikiran menolak tapi bukan hati yang berkeinginan, itu hanya nafsu yang mengambil ruang hati.
Pikiran warasku masih menang, nafsu blum mampu mengambil alih kendalinya. Maka pikiranku yang mengulurkan tangan bagi hatiku yang terpuruk dalam kepedihan pengasingan. Mendatangi hati dengan tatapan tegas dan yakin seolah berkata "Wahai hati, genggamlah kejernihan pikiran yang masih aku miliki. Kau lebih mampu dari yang engkau kira". Saat pikiranku menguat kemudian hati kembali mengangkat dagunya, meyakinkan bahwa ada hak yang telah aku singkirkan untuk Rabbku, Allah, sang Maha Penyayang, sang Maha Lembut. Sungguh aku harus segera berlari mengejarMu.
Kemudian pagi ini-pun datang. Ada sosok yang rupanya bernasib sama dan pikirannya telah kalah oleh nafsu yang tak tertahankan. Pikiranku menghadapinya sungguh dengan riak kecil, antara bingung namun tetap datar. Bertahan dalam kewarasan untuk bersikap tenang dan wajar. Dengan segala kemanusiaan dan sifat manusiawi aku mencoba mengerti, tetap teguh dengan jalan lurus yang aku pilih, mencoba membuatnya untuk sadar ini bukanlah cara yang tepat, namun apa daya kata meluncur begitu cepat. Aku masih bertahan dalam ketenangan meski nafsu dan hati bersengit, dan aku tau pasti di dalam sana riaknya mulai menjadi.
Dan, Allah sungguh maha Penyayang pada hambanya yang selalu berusaha dalam kebenaran dan menegakan yang hak. Meski terlanjur aku tetap bersyukur ia menyesalinya. meski terlanjur kecewa. ahh inilah dia manusia, tempatnya salah dan kewajibannya untuk belajar dari kesalahan. Dan kemudian aku di sini berharap dengan segera, sungguh dengan segera kita hanya mengejarNya dalam keutuhan bentuk ketakwaan.
Tapi hei,,, pikiran warasku dan kebeningan hatiku menemui mu yang lain. yang hatinya terbagi dua, yang kemudian dua hati dengan dua bentuk nafsu saling berebut pikiran yang hanya satu. Aku,,, menonton mu penuh dengan tanya dalam setiap kalimatnya. Aku, bagiku mengejarMu jelas akan memberikan aku jawaban meski bukan sekarang. dan si dua hati? ahh semoga kalian bisa bersatu dalam satu pikiran dan meneriaki satu kesepakatan bagiku sehingga responku tidak bertentangan untuk yang satu tapi membenarkan bagi yang lain.
MengejarMu sungguh harus selalu menjadi keutamaan bagiku. Dibekali ketakwaan hanya untukMu. disiram kesejukan akan ketaatan kepadaMu dalam amalan dan ibadah hanya untukMu. Jika pun hasil pengejaran ku padaMu memberikan lebih banyak opsi, maka aku yakini jawabanMu adalah yang Engkau siapkan lebih dulu. Wallahua'lam.
with Love for Allah.
Komentar