Ketika momen-momen itu tiba.
Sebagai seorang manusia dalam usia dewasa awal, maka terasa wajar apabila begitu serius membicarakan masa depan. Keseriusan akan obrolan ini semakin terasa hangat apabila dikerucutkan dalam topic pasangan masa depan. Mari kita kutip satu bait sebuah lagu tulisan kang abay “Namamu rahasia, tapi kau ada di masa depanku”. Ah, kalimat itu memberikan suatu kepastian yang tidak pasti bukan? Membicarakan perasaan cinta kemudian tidak akan terasa membosankan apabila yang berbicara dan yang mendengarkan sedang mengetahui rasanya. Perasaan yang berbagai macam jadi satu, senang, gelisah, khawatir, itulah bagaimana aku mendeskripsikan rasanya.
Dalam Islam kemudian, kita sebagai muslim menjadikan momen-momen jatuh cinta sebagai suatu batu loncatan serta tamparan agar lebih mendekati Allah SWT. Ya, muslim sejati tidak menjadikan momen-momen jatuh cinta sebagai bahan bakar usaha untuk PDKT dan berakhir pada pacaran. Dalam Islam, seorang mukmin harus mengakhiri momen-momen jatuh cintanya dengan mengikhlaskan atau menikahkan. Tidak ada bahkan komitmen tak tertulis yang mengharuskan satu sama lain menunggu sekalipun dalam keadaan sama-sama suka.
Barangkali kemudian kita akan menemukan seorang mukmin yang terlihat kesulitan dan kesusahan pada momen-momen ini bahkan hingga berduka, kenapa? Bukan dalam rangka menyesali fitrah yang datang padanya, bukan dalam rangka menyalahkan Allah. Tapi dalam rangka menyalahkan diri sendiri karena belum mampu mengendalikan perasaan dan pikiran, hingga kemudian ia sadari bahwa momen-momen jatuh cintanya menyebabkan ia lebih lalai, lebih sedikit memikirkan Allah dibanding si ‘dia’, atau bahkan tanpa sadar bermodus ria demi sekedar say hai atau bertemu.
Jangan, jangan salahkan perasaan cintanya. Karena sejatinya hati yang merasakan cinta itu sendiri adalah kehendak Allah. Kemudian aku kembali teringat satu bait dari lagu ciptaan kang abay, “bukan cinta yang memilihmu, tapi Allah yang memilihmu untuk ku cintai” maka kemudian kita sendiri yang harus cepat mengambil langkah. Mau kemana perasaan ini berakhir, bagaimana peluangnya, dan kemudian bagaimana kita akan mengatur dan mengendalikan perasaan ini? Itu adalah tiga pertanyaan yang sekiranya penting untuk dipikiran setiap orang yang merasakan momen-momen jatuh cinta.
Sebesar apapun perasaan itu tumbuh dalam hatimu, siramlah ia dengan doa-doa pengharapan kepada Allah agar jodoh yang terbaiklah yang kemudian akan Allah pertemukan kepada kita, jodoh terbaik itu ialah seseorang yang membuat keyakinan dalam hati kita terus menguat setiap waktunya. Bisa jadi kemudian seseorang itu adalah yang pertama kali menumbuhkan perasaan di hati, bisa jadi juga bukan, bisa jadi seseorang yang tidak kita kenal awalnya, atau malah seseorang yang dekat dengan kita. Siapapun ia, teruslah memperbaiki diri, memperbaiki iman, dan menyantunkan akhlak, insyaaAllah ‘dia’ yang disanapun dalam usaha yang sama hingga akhirnya satu sama lain akan saling mencintai karena Allah, karena ketaatan kepada Allah. Wallahua’lam. (kalo mau tau kang abay siapa, cari di youtube aja ya)
Komentar