Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerita aja

Cerita Nikah Bagian 1_Adaptasi, Perkenalan.

Gambar
       Tanggal 15 Maret 2020 adalah tanggal pernikahan Lana dan Reka. Sebuah pernikahan yang ajaib bisa terjadi, setidaknya bagi Lana. Pernikahan adalah sebuah langkah yang sudah Lana rencanakan sejak masa-masa kuliahnya. Target awalnya adalah menikah di usia 22 tahun. Namun takdir berkata usia 24 tahun adalah waktu yang paling tepat bagi Lana untuk menikah. Dengan seorang laki-laki yang tidak pernah punya hubungan pertemanan dengannya, tidak dia kenal dekat, hanya tahu nama karena saat SD nama laki-laki ini pernah didengarnya, dan dikemudian hari karena Allah SWT takdirkan, adiknya Lana mengenalnya di kampus ITB dan Abi Lana adalah dosen pembimbing Thesis Kakak pertamanya di Ilkom IPB. Ternyata Abi Lana dan Ayahnya sama-sama dosen di Fakultas Teknik Pertanian dan ruangannya bersebelahan. Ditambah rumah yang jaraknya hanya 2.5 Km. Siapa yang sangka?        Singkat cerita, segala benang merah tersebut yang membuat jodoh terasa masuk aka...

Fear

Gambar
Waktu masih kecil dulu, ada sebuah acara TV yang berjudul Fear Factor. Mungkin anak lahiran tahun 90-an pernah nonton acara ini. Ini adalah sebuah acara luar negeri yang disiarkan ulang di Nusantara. Hal yang paling menarik dari acara ini adalah karena setiap peserta ditantang dengan hal yang bisa jadi paling mereka takuti.  Mengingat acara TV ini saya kemudian menyadari bahwa ada hikmah yang bisa diambil dari acara TV tersebut. Punya perasaan takut sesungguhnya adalah sebuah insting untuk melindungi diri dan hal tersebut alami. Tapi tentu saja sangat mungkin kita memiliki keadaan di mana kita harus menghadapi ketakutan tersebut. Lalu bagaimana caranya? Maka acara Fear Factor tersebut membuat saya sadar bahwa ketakutan hanya mampu kita kalahkan dengan menghadapinya. Tidak sederhana, tidak mudah, dan juga tidak ringan. Menghadapi ketakutan adalah hal yang perlu niat yang kuat dan usaha yang keras. Jadi hal yang semakin sulit untuk dihadapi saat ketakutan itu bukan saja me...

Berat, rasanya

Selama sebulan ini sekolah mempersiapkan segala kebutuhan untuk akreditasi. Katanya, nyiapin akreditasi memang memeras tenaga, ternyata iya. Karena persiapan akreditasi yang berat ini bersamaan dengan beberapa agenda besar sekolah maka jadilah sungguh "terasa" berat. Ini memang akhir tahun ajaran, maka jangan lupakan rapot. Sebenarnya ingin sekali bisa produktif optimal dalam kegiatan2 dakwah yang dulu ketika berstatus mahasiswa dilakukan. Tapi mungkin ini adalah bagian dari adaptasi di mana kegiatan dakwah sesungguhnya sangat banyak bentuknya. Jangan lupa, bahwa segala aktivitas bergantung pada niat. Melakukan yang terbaik buat sekolah bisa jadi bentuk dakwah juga. Maka hari ini, mungkin beberapa orang tidak senang hati mengetahui saya yang "check lock" sebelum semua kegiatan lembur hari ini usai. Tapi janji tetaplah janji, janji bertemu adik" untuk memberi tambahan bekal yang sebenarnya bekal juga bagi saya. Janji yang sayangnya sudah terlanjur dibuat s...

Permintaan

Gambar
Kata orang, kualitas anak laki-laki dilihat dari kedekatannya dengan ibunya, sedangkan kualitas anak perempuan dilihat dari kedekatannya dengan ayahnya. Sampai hari ini saya masih percaya dengan kata-kata yang saya juga gak tau penelitian mana aja yang udah membuktikannya. Kedekatan antara orang tua dan anak adalah sesuatu yang pasti, meskipun dari apa yang saya pelajari selama kuliah, kedekatan itu bisa dalam bentuk yang secure atau insecure . Ketika pernah insecure bukan berarti akan selamanya begitu. Kalau sudah secure- pun bukan berarti tak akan jadi insecure . Manusia itu dinamis, jadi bergantung bagaimana orang tua dan anak saling belajar untuk menahan diri dari perilaku-perilaku yang saling melukai di antara keduanya. Mungkin itu intro yang apa banget buat tulisan kali ini, yang pada dasarnya nyeritain soal seorang anak perempuan dan permintaan bapaknya. Ketika seorang anak sudah bekerja, pasti dong ada keingininan buat dia beliin something buat keluarganya, sauda...

Ummi

Gambar
Ada sebuah alasan mengapa anak sulung yang sudah mempunyai segala yang ia butuhkan di luar sana kembali lagi dan lagi ke rumah yang sepi itu. Alasan itu adalah ummi. Keramaian di rumah ini dimulai oleh ummi. Oleh sautannya untuk makan, obrolannya soal kantor, obrolan soal adik-adik, obrolan soal asisten rumah tangga yang begini dan begitu, obrolan soal masa lalu, obrolan soal banyak hal. Demi mendengarkannya bercerita, demi melihat keceriaan di raut wajahnya, demi merasakan senyuman hangatnya, demi melihat sikapnya yang selalu ekspresif. Demi itulah si sulung pulang. Maka demi itu pula sepinya rumah tak akan pernah sesepi tanpa ummi, ketika ummi dinas ke luar kota atau kunjungan mandiri ke kakak-kakaknya misal.

Penulis

Gambar
Nulis itu bukan sesuatu yang mudah, kadang meski hobi, tapi kalo isinya curhat mulu emang jadi sebel juga bacanya. (ini ngomongin diri sendiri kok). Makanya kadang banyak tulisan saya yang berakhir jadi draft karena isinya kelewat curhat. Makanya suka sebel, iri, cemburu, plus kagum sama orang yang bisa produktif banget posting tulisan dan enak dibaca. Seenggaknya meski ga terus-terusan ada yang ngasih respon lewat komen, tapi punya tulisan yang selalu nyaman di baca apalagi pilihan katanya bagus, itu jadi keren banget, terlepas apapun isinya. Udah beberapa hari ini saya baca berbagai tulisan orang. Ada yang di web khusus berisi opini ada juga blog pribadi. Ada yang mengkritisi kondisi negara, perpolitikan, soal perasaan, soal ideologi, soal iman, banyaklah. Hampir semua tulisan yang saya baca bikin kagum dan bikin semangat nulis. Meski akhirnya gagal posting lagi dan lagi.

Taukah kamu?

Gambar
Ini adalah cerita seorang sahabat dekat. Yang aku semogakan ia menikah tahun depan, tahun ini malah, semoga. Dia adalah seorang yang tangguh dengan kehidupannya. Berjuang keras untuk membalas pengkerdilan yang ia dapatkan. Membuktikan bahwa ia mampu. Kini aku melihat kesuksesannya untuk membuktikan semua yang ia gagali di masa silam. Terucap dari dirinya, sebuah kata yang bersimbolkan ketidakpercayaan diri. Sama seperti bagaimana kadang aku memandang diriku yang remah-remah ini. Calonnya adalah seseorang yang sangat cerdas, IPK nyaris summa cummelaude ketika lulus dari ITB Teknik Elektro. Kini diterima di 3 univ di luar negeri untuk sekolah lagi namun kemudian   menolak demi membersamai sahabatku di masa datang. Namun, begitulah ia, berucap padaku di chat personal sambil kubayangkan ia berkaca-kaca. Ia merasa kecil untuk diperjuangkan sebesar itu. Aku turut bahagia dengan rencana-rencana besar yang sudah ia susun, meski sebal terkadang dengan keras kepalanya yang berkali...

Anting (Memaknai Kehilangan)

Gambar
      Ketika sesuatu hilang dari kita, terlepas, maka tenangkan hatimu. Berikanlah ruang bagi hatimu untuk berpasrah diri padaNya, hingga kemudian kamu merasa ikhlas atas kehilangan itu. Jika apa yang terlepas darimu itu Ia takdirkan kembali, maka tiada satupun yang dapat menghalanginya kembali. Meskipun dengan cara yang tak pernah terbayangkan, bahkan tidak masuk diakal. Ini adalah makna yang aku pelajari dari sebuah anting. Bahwa, bila Allah menjamin segala sesuatu menjadi hak kita maka ia akan tetap menjadi milik kita. Anting yang sekitar bulan november-desember lalu hilang sebelahnya dariku, dengan cara yang sama sekali tidak masuk akal kembali. Jawaban yang diminta karena keyakinan kepada Allah akan datang dengan cara yang tidak disangka-sangka. Well, jadi sebenernya ini cerita soal anting. Allah SWT memang selalu tau caranya bikin kejutan. Mungkin ketika kalian baca paragraf ini feel baca blognya jadi luntur. Tapi tenang, ini cerita se...

Bicaralah yang baik

Ada seseorang yang pernah berkata bahwa blog ini isinya curhat. Mungkin ada benarnya, karena seringnya pembelajaran berasal dari kisah hidup yang membekas. Seperti beberapa blog yang isinya terkesan curhat. Mungkin blog kali ini juga begitu. Semoga dari tulisan ini kita terus bisa berkaca diri dan banyak bebenah diri. ***** Islam mengajarkan umatnya dengan segala keindahan. Maka itu Allah mengutus Rasulullah SAW untuk menyempurnakan Akhlaq manusia. Dengan keindahan akhlaq rasul pula-lah yang membuat objek-objek dakwah Rasul tersentuh hatinya. Islam mengajarkan bahwa akhlaq ada pada setiap pembelajaran hidup. Dengan akhlaq yang baik-lah seseorang menilai pribadi bahkan kepahaman agama. Lisan kita, mungkin sering khilaf dalam merangkai kata. Khilaf dalam berkomentar, bahkan khilaf ketika celetukan2 ringan atau canda keluar dari mulut. Padahal lisan sering menjadi tolak ukur akhlaq seseorang. Seseorang yang santun perangainya tentu didukung dengan santun lisannya. Bila lisan teras...

FYI (spesial for reader)

Haloo Assalamualaikum para pembaca sekalian, apa kabar? semoga selalu berada dalam rasa syukur yang dalam bagaimanapun kondisi kalian yaa. Udaha baca beberapa cerpen yang aku tulis? haha keliatan banget ga biasa nulis cerpen ya. Paadahal dulu SMA pernah ngegarap novel yang sampe sekarang ga beres. maklum lah jari-jari terbiasa nulis opini-opini di blog ini. Trus ngapain sok-sok nulis cerpen? em,,,, kenapa ya? gada apa-apa sih, karena kepengen aja. kalau pun ada alasan khusus mungkin karena banyak pikiran yang muter-muter di kepala ya. hahaha Jadi itu cerpen mau soal si Shera terus? nah, entah ya... mungkin iya mungkin ga. tergantung mood.  Sekarang tuh lagi masa-masa berat sebenernya. dibilang sibuk, tapi hampir tiap hari main (lokasi pengambilan data selalu deket pusat perbelanjaan), tapi dibilang santai, ga bisa juga soalnya udah ga ada hari libur lagi sampai ketemu tanggal sidang hasil dan keluar dari ruang sidang. Hari minggu aja kita (tim) tetep ke lapang buat a...

Belajar untuk memperjuangkan

Pernah gak sih lu ngerasain yang namanya berantem sama diri sendiri? Jawab-jawaban sama diri sendiri dan membenarkan sekaligus menyalahkan dalam satu waktu yang sama? Stoooopp jangan buru-buru menganggap bahwa lu punya kepribadian ganda, karena bisa jadi sebenernya itu cuma suara hati dan suara pikiran lu yang berusaha memenangkan argumen.

Berbisik

Jangkrik di belakang rumahku bernyanyi dengan lantang, seakan ia tau bahwa aku butuh penghibur dan begitupun suara kipas angin di kamarku, malam ini ia berbunyi berirama seakan tau bahwa hatiku harus ditenangkan. Aku merasa penat di hatiku bertambah tapi sisi hatiku yang lain berbisik ringan "tawakal lana". Ah bisikan itu sungguh membuatku merunduk malu dan dengan cepat membuatku lupapada nyanyian jangkrik dan irama kipas angin.  Dalam-dalam aku menunduk menyadari kondisi diri. Sedetik kemudian aku tersadar, meski singkat perasaanku naik turun karena situasi, tapi ini tak boleh lama karena aku harus memurnikan hatiku kembali agar aku mampu bertawakal padaNya. Hai buku, kau tau ini adalah sebuah fase yang mungkin sudah waktunya untuk dihadapi, inn adalah fase yang memaksa diri untuk dewasa. " kamu sudah dewasa loh " ~ah iya buku, umurku sudah lebih dari 20 tahun. Hai bantal, kau tau menjadi dewasa itu rupanya butuh pengalaman dan banyak belajar. ...

Buat kamu *eaa #skip

Memilih pasangan itu bukan seperti memilih barang, yang mahal sekalipun , tidak. Karena memilih pasangan itu adalah memilih seseorang yang akan bersama kita hingga maut memisahkan, memilih seseorang yang mau memantaskan diri seumur hidupnya untuk kita dan kita pun mau memantaskan diri seumur hidup untuknya, memilih seseorang yang mau mendengarkan dan kitapun mau mendengarkannya, memilih seseorang yang karenanya ketaatan kita pada Allah bertambah dan ketaatannya kepada Allah pun bertambah. Bahkan untuk memilih pasangan, kita membutuhkan ilmu dan pemahaman yang memadai. Bukan sekedar ilmu persiapannya tapi juga ilmu ketika menjalaninya. Ilmu tentang akad yang membuat kita menyegerakan ketika tiada halangan hingga ilmu talak yang dengannya harus kita hindari. Note: Tulisan ini saya buat dalam rangka memberhentikan sementara obrolan soal Jodoh bagi diri saya sendiri yang akan dimulai besok. Why? Karena sungguh, obrolan yang semakin menjadi di semester 7 ini menyita pikiran dan waktu, ...

Melihatmu

Kemarin aku bekukan pintu jalanmu. Ku tinggalkan, sungguh ku tinggalkan pintu itu dalam keheningan, kebekuan, dan debu. Tak pernah terpikirkan untuk suatu saat nanti aku sentuh. Hingga kemudian matahari terbit pada sisimu, mencairkan kebekuan pada pintu jalanmu. Entah atas alasan apa kubiarkan matahari mencairkan beku pada pintu itu.  Debu di pintu itu perlahan sirna oleh luberan air, perlahan beku itu mencair, membersihkan dengan sendirinya pintu yang kutinggalkan beku dan berdebu. Kini pintu itu tak lagi beku, tak lagi berdebu. Kemudian aku tersadar bahwa pintu itu siap terbuka, tapi aku masih membiarkannya dalam keheningan. Sadar tapi tak ingin, melihatmu datang dri pintu itu kini menjadi hal yg mungkin.  Entah kemudian apa yg membawaku berjalan menuju pintu jalanmu. Memberikan sedikit suara dan tak lagi membiarkannya dalam kehening. Pintu itu kini bersinar oleh pantulan matahari, berkilau oleh embun2 harapan. Meski tak kupahami betul apakah takdir yang akan datang...

Mengenal -lebih jauh- Pengurus BIRENA 2014 dan 2015 di IYC 1436H

Hari ini adalah hari berakhirnya program kerja IYC 1436H. IYC kali ini adalah IYC ke-2 yang aku ikuti sebagai seorang panitia. IYC biasanya menjadi ajang bagi para pengurus Birena untuk saling mengenal satu sama lain baik sesama akhwat maupun akhwat-ikhwan. Saling mengenal dan memahami ini kemudian menjadi poin yang nantinya akan mensolidkan dan menguatkan komitmen tiap individunya. Berikut adalah pemaparan dari sudut pandang saya kepada para pembina yang masih aktif hingga kegiatan IYC hari ini. -sesungguhnya setiap kalian adalah inspirasi dan teladan bagi saya-

Otoritas Untuk Kebijakan

Gambar
Ayoolaah,, melihat dua orang saling berdiskusi dengan tarik urat dan nada tinggi saja sudah cukup mengganggu saraf, apalagi harus melihat dua orang bertengkar hingga menangis. Itu menjengkelkan. Bukan, bukan hanya rasa jengkelnya yang mengganggu tapi rasa takut dan cemasnya yang membuat itu semua menjadi perpaduan yang luar biasa extrem untuk saraf otak. Tunggu, tunggu kita membicarakan sesuatu yang luas kawan. Ini bukan sekedar soal pendukung pilpres yang adu kuat, bukan juga sekedar dua sahabat yang sedang bertengkar, dan bukan juga sekedar pertengkaran suami istri. Ini lebih dari itu dan bahkan lebih dari cerita tentang pertengkaran antara kamu dan aku. Ini tentang semuanya. Pertengkaran. Tiap kali terjadi pertengkaran selalu ada pihak yang akhirnya otoriter dan yang lain terdzalimi. Yang otoriter memanfaatkan kemenangannya dan yang terdzalimi dimanfaatkan. Aku benci kata dimanfaatkan, karena itu mendekati hasil dari sikap "tidak enakan" dan rasa bersalah yang b...

Sahabat-Sahabat Hadiah dari Allah

Menjelang maghrib waktu yang lumayan oke buat nuangin kenangan di sini. Kenangan bersama orang-orang yang membekas di hati dan ingatan. Yap inilah dia sahabat-sahabat yang pernah menuliskan cerita bersama ditiap sesi kehidupan sampai saat ini. Karena mereka dan insyaAllah karena andil-andil merekalah lana berproses jadi anak yang lebih baik. Jazakumullah sahabat. Terimakasih buat ALLAH SWT yang mengirimkan mereka buat lana.  

Lelaki Sayur Mayur VS Wanita Baja

Gambar
Okee,, sesi obrolan malam kita kali ini adalah tentang pribadi dan kemandirian dalam keluarga.  Hmmm lucu juga kayaknya bocah kayak saya yang belum benar" masuk umur 17 tahun ngomongin hal yang berbau keluarga, apalagi ini menyangkut suami dan istri, tapi karena ini bagian dari ilmu ga ada masalah kan yah hhe. Belakangan ini orangtua di rumah sering banget membicarakan tentang kemandirian jiwa dalam keluarga, mereka banyak banget cerita dan ngasih semacam petuah, walaupun agak lucu sebenernya mereka cerita panjang lebar sama saya yang masih bocah dan imut ini (cukup!) kan belum cukup umur gitu.. Tapi mereka bilang ga ada salahnya saya tau, katanya biar saya bisa belajar dari sekarang dan mikir dari sekarang.

Pelik

Kelabunya langit senja sama seperti kelabunya fajar tak pernah ada kata yang bisa kuucapkan lemah saatku bersamamu jauh... jauh... dan semakin jauh. semakin jauh aku melihat ke depan semakin banyak lembar yang aku intip ke belakang warnanya tak pernah pudar di bilik kehangatan celotehnya memang tak lagi ku dengar, tak lagi ku rasa Kau, atau biarlah ku sebut kalian. seperti yang kukatakan waktu tak akan menunggu mungkin ia akan menyeretmu dalam keniscayaan waktu telah jauh terlewat meski rasa itu masih bisa tersisa langit biru tentu akan berjalan perlahan melewati dinding bumi berganti... berganti.. berlalu... dan berubah... Terimakasihku tak akan cukup sebagai bingkisan  maafku tak akan cukup menutupi luka  tapi izinkan ku jadikan senyum ini perban penutup luka yang menganga izinkan aku untuk memeluk lagi hangatnya cerita kita dalam lingkaran bisakah... bisakah...? Fajar menyingsingkan lengannya, membuka tabir kenis...

Klise

Gambar
kenapa judulnya klise? karena gw maunya itu. kenapa maunya itu ? karena itu hak gw apakah nyambung sama isinya? gak tau lu baca aja menurut lu penting ga buat gw baca? kalo ga penting ngapain masih lu baca ini tulisan! BZZBZBBZZBBZBZBZBZBZZZZZZZZZZZZZZZZZZZ