Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Menjadi Orang Tua

Gambar
Aku mungkin belum menjadi orang tua bagi seorang anak hari ini. Tapi dulu aku adalah seorang anak.  Ada sebuah pesan yang dengan tulus ingin saya sampaikan kepada para orang tua muda. Dan tentunya juga untuk diri saya sendiri.  Menjadi orang tua baru dengan seorang anak pastilah hal baru yang membawa tantangan bagi pasangan baru.  Namun, sesulit apapun kondisi hidup kalian pada masa-masa awal pernikahan dengan seorang anak di pangkuan kalian, utamakanlah mereka.  Jangan korbankan masa kecil mereka untuk sebuah pikiran "ketika semua sudah lebih baik aku akan membayar semuanya pada anak-anak",  karena itu akan terlalu terlambat. Masa kecil mereka mungkin sudah berlalu dengan banyak luka. Masa di mana perhatian dan sayang orang tua sangat dibutuhkan sudah berlalu. Ketika menyadarinya nanti, mungkin hanya akan tertinggal sesal yang tak akan hilang hingga mata kalian melihat mereka dewasa. 

Tersenyum

Memang, ada beberapa hal yang kita pikir sudah tidak lagi mengganggu jalannya kehidupan kita. Tapi ketika terkenang sedikit, rupanya tetap ada ibarat baju putih yang terkena luntur. Meski seperti hilang, sebenarnya ada berbayang. Tapi, hidup kita bukan untuk menyesali yang tak hilang berbayang itu kan? Tersenyumlah pada bayangan sendiri dan katakan pada mata yang menatap kuat itu, "biar saja berlalu dan ikhlas pada cerita ini. Sudah takdirnya berliku, yang datang dan pergi, yang mengejar lalu sembunyi, yang padanya tatapan tak terlepas namun tak kunjung menyapa". Obrolan malam itu membuatku sadar bahwa ternyata sudah banyak kerikil, dan karang yang berlalu. Tersenyumlah, siapa peduli jika esok kembali tersandung batu. Kita hanya perlu berdiri dan kembali berjalan. Jika menurutNya beginilah jalan terbaik menuju sungai telaga, apakah pantas untuk tidak percaya?

Tanyakanlah

Malam, kenapa ya? Padamu ada bintang yang kecilnya sebesar titik hitam di bukuku... tapi terang sekali. Indah seperti kilauan mentari yang memantul di cerminku. Tau tidak? Sepi itu adalah jarak. Antara aku dan bintang ada sepi. Karena kita berjarak. Tapi aku bisa melihat bintang. Meskipun sepi. Penasaran tidak? Aku iya. Menunggu sampai tidak sepi. Tau kan maksudku? Tapi, kata panutanku, sabar tak berbatas. Aku jadi malu untuk merengek, walaupun sambil nangis sih. Malam, sekarang aku tau. Kamu tidak abu, buktinya waktu ke Jepara dan Sumatera Barat kamu gelap. Hitam. Mungkinkah karena Depok masih bersedih, dia jadi kelabu? Atau bukan? Malam, lain kali kita bicara ya. Tanyakan saja apapun... aku suka..