Tak akan lama


Puluhan pertanyaan menghujam pikiran dan menusuk keji hati. Langkah kaki yang mantap perlahan melambat lalu diam. Jika ada yang harus memekik berat mungkin ia adalah hati. Kenapa? Entahlah.

Angin malam yang ramai bertambah ramai dengan bunyi-bunyi mobil dan sirene. Di luar sana pastilah begitu banyak kesibukan yang mengalir. Tak perlu di luar, bahkan di dalam sini banyak pekerjaan yang menunggu untuk diakhiri. Sayang sekali, hati yang ramai membuat pekerjaan berat terasa tak lebih berat dari batu yang menumpuk di hati. Atau malah untung? Hmm sudahlah.

Menyelesaikan perkara pikiran jauh lebih mudah dari perkara hati. Seringnya terlalu rumit berbelit. Membuat sulit mencari ujung benangnya. Tapi bisa, tentu saja perlu yakin kalau ujungnya akan ditemukan. Entah kapan.

Bila diujung timur ada yang merasa berat, percayalah ujung barat turut merasa berat. Hati tak milik satu pihak. Tapi tak berhak langit dan bumi dipersalahkan. Pastilah setiap nafas sudah saling mengusakan dengan cara terbaik.

Ingin sekali ada penawarnya. Mengapa terasa begitu mahal? Mungkinkah karena jiwa yang terhalang dosa. Cermin, hati selalu butuh cermin untuk kembali menunduk dalam-dalam dengan perenungan. Penawarnya mungkin adalah jiwa itu sendiri.

Bertahanlah, percayalah ini tak akan lama.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Guruku

Slow Response

Cintaku Padamu

Bicaralah yang baik

Melihatmu