Catatan akhir kampus 1
Salah satu cara menuangkan gejolak pikiran
yang mendidih adalah dengan menulis. Menulis kemudian menjadi hobi yang
menghibur perasaan cemas atau gelisah yang melanda. Bagiku, menulis menjadi
suatu hobi sekaligus obat.
Tahapan kehidupanku
detik ini berada di akhir tingkat empat di kampus. Ini menandakan bahwa
masa-masa wisudaku harus segera terlaksana dalam jangka waktu beberapa bulan
lagi. Syukurlah aku sudah melewati seminar hasil dengan cukup baik. Masa ini adalah
di mana aku menyadari bahwa Allah memang senang memberikan kejutan bagi
hambaNya. Banyak hal-hal tak terduga yang Ia izinkan terjadi padaku. Salah
satunya adalah diterima sebagai staff pengajar di sekolah karakter, tepatnya di
Indonesia Heritage Foundation. Tempat ini dulunya adalah tempat
magang selama sebulan, tidak aku sangka akan menjadi guru SD di sekolah ini
bahkan sebelum aku sidang hasil skripsi. Sebenarnya ini menjadi tantangan
tersendiri. Jujur saja sebenarnya ada perasaan ingin bersenang-senang dulu,
namun mengingat bahwa uang yang aku gunakan bukanlah milikku, semua kandas.
Bertumbuh memang memerlukan banyak pengorbanan
Ada suatu
kejadian besar yang terjadi, beberapa bulan sebelum aku seminar hasil, sebulan
sebelum aku melaksanakan magang. Aku pikir kejadian besar itu akan menjadi
titik balikku di sekitar akhir tahun, ternyata Allah berencana lain. Kejadian
besar itu mungkin bukanlah titik balikku untuk akhir tahun ini, sayangnya
kejadian besar yang penuh kejujuran dan ketulusan itu terlanjur aku harapkan.
Sehingga meskipun Allah mengganti kekecewaanku dengan pekerjaan, tetap saja
harapan itu pelan-pelan makin dalam menusuk pikiranku. Bukannya berharap pada
makhluk, bukannya aku tak berusaha, bukannya aku membiarkan, asal tahu saja aku
sudah berusaha sekuat tenaga membuangnya, menikamnya, membunuhnya. Apa daya
harapan itu menjelma menjadi suatu kebutuhan yang barangkali aku ada-adakan, apalagi
obatnya tak bisa aku dapatkan sekarang. Menyiksa? Tentu saja. Menyebalkan? Jangan
tanya. (Belajar istiqomah menjaga iman dan agama *semangat)
Tapi kondisi
rumitku dengan Kuliah-Kerja adalah aktifitas yang sebenarnya cukup untuk
mengobati kekusutanku. Apapun rasa lelahnya perasaan ini, ikhtiarku dengan
menyibukkan diri dan tawakalku dengan keputusan Allah (aku yakini yang terbaik
bagaimanapun skenarionya) harus selalu aku nomor satukan. Menulis kemudian
menjadi salah satu solusi. Ini adalah satu dari banyaaaaaaak sekali tulisanku
yang hanya berkakhir pada folder di laptop. Maklum saja isinya kalimat
bertingkat sok sastra yang tujannya melepaskan beban hati. Tak pantas rasanya
untuk di posting.
Kegiatanku
akhirnya menjadi bekerja sambil menunggu revisi skripsi dari dosen, ijin dengan
konsekuensi pemotongan gaji, penundaan pemberian gaji karena baru masuk di
tanggal 20, seminggu masih harus
bolak-balik bogor-depok, dan masih harus menyediakan waktu untuk mencari bahan
pelengkap menuju sidang. Syukurnya Allah mudahkan jalanku dengan tidak fatalnya
revisi yang harus aku lakukan. Paling tidak aku tidak perlu ganti model untuk
pengolahan data, cukup mengaitkan teori dengan hasil di lapang dan memperbaiki
tata cara penulisanku. Tentu saja aku harus curi start juga untuk belajar
kompre di sidang nanti. Aku rasa liburan kali ini akan terisi dengan belajar
untuk kompre, revisi skripsi, dan mengulas soal matematika kelas 4 SD. Yap, aku
ditempatkan sebagai guru kelas 4 SD kemungkinan akan lebih banyak mengajar
matematika (jadi teringat sesuatu).
Apapun yang sudah Allah amanahkan padaku hingga detik ini, aku percaya
semua karena Allah tau aku mampu…..
To be continue…..


Komentar