Ummi
Ada sebuah alasan mengapa anak
sulung yang sudah mempunyai segala yang ia butuhkan di luar sana kembali lagi
dan lagi ke rumah yang sepi itu. Alasan itu adalah ummi. Keramaian di rumah ini
dimulai oleh ummi. Oleh sautannya untuk makan, obrolannya soal kantor, obrolan
soal adik-adik, obrolan soal asisten rumah tangga yang begini dan begitu,
obrolan soal masa lalu, obrolan soal banyak hal. Demi mendengarkannya
bercerita, demi melihat keceriaan di raut wajahnya, demi merasakan senyuman
hangatnya, demi melihat sikapnya yang selalu ekspresif. Demi itulah si sulung
pulang. Maka demi itu pula sepinya rumah tak akan pernah sesepi tanpa ummi,
ketika ummi dinas ke luar kota atau kunjungan mandiri ke kakak-kakaknya misal.
Ummi adalah bungsu yang periang,
ibu dengan kepanikan yang kadang pasang dan kadang surut, senang sekali setiap
kali bisa memeluknya erat sambil tertawa. Lupa kala kecil dulu sebal sekali
dengan kebawelannya. Usia memang salah satu faktor yang mendewasakan pikiran,
kendati dewasa memang nyata pilihan. Maka aku memilih dewasa untuk berpikir dan
menilai. Menertawakan keusilan kala kecil untuk sesaat kemudian memaki
kekurangajaran bocah kecil dulu pada ummi dan abinya. Syukurlah saat itu belum
baligh.
Teringat air mata Ummi yang jatuh
entah berapa kali demi menahan beratnya menanggung sikap si sulung yang minta
ampun. Ternyata belajar memahami si sulung sungguh ujian nyata yang tak
terungkapkan dengan kata-kata tulisan maupun lisan. Belajar, sulung dan ummi belajar saling
memahami. Di balik badannya lah sulung sembunyi dari cekaman matematika yang sungguh
memuakan saat itu. Hingga akhirnya keluar perlahan dari balik punggungnya untuk
kemudian membuktikan pada semua yang mencaci, matematika mampu ia jinakkan,
saat itu masa-masa SMP.
Kini, setiap kali pulang ummi
sudah menyiapkan banyak cerita. Satu jam, dua jam, terkadang tiga jam. Si sulung
belajar menjadi telinga, tersenyum kala ceritanya menarik, mengerenyit ketika
ceritanya sedih atau bernada buruk, sambil melemparkan komentar-komentar
pendek. Kadang rasanya begitu terpaksa, terpaksa melihatnya yang semakin beruban
dan menua pelan-pelan, namun keriput halus hanya membuatnya semakin cantik dimata.
Ummi, yang tetap saja hobi memberikanku uang meski sangat terpaksa menerimanya.
Malu.
Pekerjaan yang terpaksa dibawa
pulang karena segenap deadline akhir tahun ajaran terpaksa kuduakan dengan
ummi. Aku masih sanggup mengerjakannya ketika malam semakin larut, tapi kantuk
ummiku tidak. Ummi, si sulung tak akan pernah bosan untuk memelukmu.

Komentar