Cerita Nikah Bagian 1_Adaptasi, Perkenalan.
Tanggal
15 Maret 2020 adalah tanggal pernikahan Lana dan Reka. Sebuah pernikahan yang
ajaib bisa terjadi, setidaknya bagi Lana. Pernikahan adalah sebuah langkah yang
sudah Lana rencanakan sejak masa-masa kuliahnya. Target awalnya adalah menikah
di usia 22 tahun. Namun takdir berkata usia 24 tahun adalah waktu yang paling tepat
bagi Lana untuk menikah. Dengan seorang laki-laki yang tidak pernah punya
hubungan pertemanan dengannya, tidak dia kenal dekat, hanya tahu nama karena
saat SD nama laki-laki ini pernah didengarnya, dan dikemudian hari karena Allah
SWT takdirkan, adiknya Lana mengenalnya di kampus ITB dan Abi Lana adalah dosen
pembimbing Thesis Kakak pertamanya di Ilkom IPB. Ternyata Abi Lana dan Ayahnya
sama-sama dosen di Fakultas Teknik Pertanian dan ruangannya bersebelahan.
Ditambah rumah yang jaraknya hanya 2.5 Km. Siapa yang sangka?
Singkat
cerita, segala benang merah tersebut yang membuat jodoh terasa masuk akal.
Mungkin satu paragraph cukup untuk menjelaskan bagaimana Allah mempertemukan
sepasang perempuan dan laki-laki menjadi satu dalam ikatan pernikahan dengan
cara paling unik. Lana dan Reka sekarang berada dalam status suami istri.
Cerita pernikahan Lana dan Reka terasa terlalu lancar atau Reka menyebut keadaan ini dengan… “kayaknya kita terlalu advance deh?”, yaap. Meskipun tidak pernah memiliki hubungan yang dekat layaknya seorang teman, tapi entah bagaimana pernikahan membuat semua terasa mengalir begitu saja. Mungkin juga karena kemampuan Lana dan Reka dalam beradaptasi yang cukup cepat. Kemampuan masing-masingnya membuat kita mudah dalam berkomunikasi. Hal-hal yang canggung tidak lama berlangsung. Hal-hal yang tidak nyaman juga terasa cepat teratasi karena salah satunya mudah menyampaikan perasaannya dengan jelas tanpa kode.
Ke”advance”an rumah tangga ini, atau kita
sebut saja akselerasi interaksi rumah tangga, antara Lana dan Reka terasa nyata
dalam hubungan antara menantu dan mertua. Baik dari pihak Lana maupun Reka.
Langkah untuk mengenal dengan seksama keluarga calon pasangan sebelum acara
lamaran dan pernikahan jadi terasa begitu manfaat bagi mereka berdua. Selama
proses taaruf yang mereka jalani, masing-masing dari mereka memperbanyak sebisa
mungkin interaksi dengan anggota keluarga calon pasangannya. Terutama kepada
ibu mertua bagi Lana.
Lana
sekarang tahu, kenapa Long Distance
Marriage dianggap sulit oleh orang-orang. Pernikahan membuat satu sama lain
saling terikat dengan kuat dan saling membutuhkan. Terutama bagi Lana dan Reka
yang memiliki Bahasa Cinta yang membutuhkan kehadiran fisik satu sama lain.
Sentuhan fisik dan waktu yang berkualitas. Reka juga belajar untuk menabung
banyak sabar menghadapi perempuan yang kini menjadi istrinya. Terutama dalam
keadaan hamilnya Lana. Sifat baik hati dan sabar yang kata teman-teman Reka
bahkan terlalu baik, kini diuji di rumah tangganya sendiri.
Reka
belajar untuk mendampingi masa-masa berat kehamilan awal. Lana dipenuh dengan
rasa mual sepanjang hari, muntah yang begitu rutin, namun dengan tetap
memotivasinya agar mampu berpuasa full Ramadhan kali ini. Lana berhasil. Tapi
itu bukan satu-satunya ujian. Sifat Lana mungkin tidak semua yang seperti
kebanyakan wanita, tapi Lana tetap seorang wanita. Mood naik turun, kosakata
yang beragam dan banyak, hal-hal ini tetap ada dan masa pandemi membuat mereka
terus bersama-sama bahkan hampi 24 jam dalam sehari dalam jangka waktu
rata-rata 3 bulan awal pernikahan. Bayangkan…
Lana
dan Reka lancar beradaptasi bukan tanpa tangis dan kesal. Adaptasi berumahtangga
itu nyata. Meskipun keduanya adalah orang yang mudah beradaptasi untuk satu
dengan yang lainnya, nyatanya mereka baru saja berkenalan. Lana tau bahwa awalan
cerita ini tidak akan mudah, maka untuk mengatasinya ia mengajak Reka untuk
mengawali minggu pertama pernikahan mereka dengan saling mengenalkan diri
masing-masing. Tentang apa yang mereka
suka dan tidak, kebiasaan-kebiasaan yang selama ini hanya mereka yang tau,
teman-teman dekat mereka, pengalaman masa lalu tentang pencarian pasangan,
kasus-kasus penting dalam kehidupan mereka, tips untuk berinteraksi dengan baik
dengan mertua, dan hal-hal kritis lainnya yang perlu dibuka sejak awal.
Menjalani
penerimaan keseluruhan dengan keadaan pasangan di awal menjadi kunci seluruh
perjalanan. Yaps jangan lupa persoalan finansial dan rencana-rencana masa depan
(kuliah/kerja/dll). Setelah percakapan panjang Lana dan Reka pada bulan-bulan
awal pernikahan mereka, mereka menyadari kunci penting pada perjalanan ibadah
panjang ini yaitu, Qannah. Merasa
cukup dengan keadaan yang telah Allah SWT takdirkan atas mereka. Juga saling
mengingatkan untuk bersyukur dan bersabar dengan satu sama lain. Ada kebiasaan
kecil yang sering Lana lakukan kepada Reka saat awal-awal pernikahan, yaitu
mengucapkan maaf dan terima kasih.
Lana
merasa bahwa ketika Lana belajar mengenal Reka, banyak hal yang kurang patut
dan banyak hal yang disyukuri olehnya. Sehingga seringkali lontaran maaf
dikeluarkan atas berbagai kejadian kecil yang sangat mungkin sebetulnya
menyinggung. Lana memahami betul bahwa menikah dengan orang yang sepantaran
dengannya akan membuat caranya berkomunikasi tidak sesantun pada yang lebih
tua. Tapi menikah dengan yang sepantaran sangat memudahkan Lana untuk
berinteraksi dan mengakrabkan diri. Maka rasa terima kasih atas kebaikan dan
kesabaran Reka sangat ia hargai.
Next, Cerita Nikah bagian
2_Akselerasi, Hamil.
Komentar