Permintaan


Kata orang, kualitas anak laki-laki dilihat dari kedekatannya dengan ibunya, sedangkan kualitas anak perempuan dilihat dari kedekatannya dengan ayahnya. Sampai hari ini saya masih percaya dengan kata-kata yang saya juga gak tau penelitian mana aja yang udah membuktikannya.

Kedekatan antara orang tua dan anak adalah sesuatu yang pasti, meskipun dari apa yang saya pelajari selama kuliah, kedekatan itu bisa dalam bentuk yang secure atau insecure. Ketika pernah insecure bukan berarti akan selamanya begitu. Kalau sudah secure-pun bukan berarti tak akan jadi insecure. Manusia itu dinamis, jadi bergantung bagaimana orang tua dan anak saling belajar untuk menahan diri dari perilaku-perilaku yang saling melukai di antara keduanya.

Mungkin itu intro yang apa banget buat tulisan kali ini, yang pada dasarnya nyeritain soal seorang anak perempuan dan permintaan bapaknya. Ketika seorang anak sudah bekerja, pasti dong ada keingininan buat dia beliin something buat keluarganya, saudara kandungnya, ibunya, dan bapaknya. Meskipun benda yang dikasih cuma seiprit dari materi yang ayah ibunya punya. Maka sampailah saya pada kondisi pengen beliin sesuatu itu buat ummi, ade-ade, dan ga terkecuali abi.

Saya tau, kala itu saya cuma belum pernah beliin sesuatu buat abi. Buat ummi udah, ade-ade udah, tapi abi…. Rasanya ga ada benda yang bisa saya beliin buat beliau dan setara dengan imagenya. Maka saya pun bertanya apa yang beliau mau dengan budget saya yang ga banyak itu (btw saya bukan orang yang romantis suka ngasih kejutan). Taukah saudara-saudara, apa yang abi saya katakan saat itu?

“Abi ga perlu apa-apa dari lana. Gausah beliin abi apa-apa. Abi minta waktunya lana aja 3 jam dalam seminggu buat abi”

BUUUUK

Itu jawaban yang bikin teriak dalam hati seakan bunyinya gini >>>yaampun abiiii emang segitu pelitnya lana soal waktu buat abi??<<<<<

Speechless, jelas. Hal yang saya lakukan seketika adalah terdiam. Saya memang pulang hampir setiap minggu ke rumah, tapi quality time saya memang selalu hanya malam, itupun ga inget berapa lama buat abi, berapa lama buat ummi, berapa lama buat diri sendiri. Memikirkan waktu 3 jam khusus bersama abi, membuat saya mengenang betapa waktu yang saya miliki bersama mereka memang tak pernah sungguh-sungguh banyak.

Maka jadilah permintaan itu, “sedikit” terwujud selama sebulan. Daaaaan tau apa aktivitas yang akhirnya saya habiskan setiap 3 jam itu?

-mijitin abi

-ngobrol

-nyiapin teh hangat

-ga inget apalagi

Bahkan sebenernya mungkin ga perlu kata-kata 3 jam itu disebutkan, tapi saya tau saat abi menyebutkan permintaan “3 jam dalam seminggu” itu semata-mata hanya untuk menyampaikan betapa ia ingin lebih banyak melihat anaknya menghabiskan waktu bersamanya. (Secara selama kuliah udah di jelasin waktu kita akan lebih banyak bersama pasangan daripada orang tua -coba aja hitung-).

Rasa sayang itu wujudnya memang banyak, kita lebih sering menerima dengan lapang dada hanya rasa sayang yang menyenangkan hati dan yang sedikit berpikir. Padahal bentuknya begitu banyak, sebanyak ketidaktahuan kita..

Komentar

Yusuf Muhammad mengatakan…
Saya jadi ingat puisi karya Kurniawan Gunadi tentang "Bapak".

Postingan populer dari blog ini

Slow Response

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!