Postingan

Konsekuensi Sebuah Doa

Malam ini saya menginap di sebuah kostan putri yang jadi langganan tempat saya bernaung ketika tiada lagi tempat yang bisa ditumpangi. Sebuah kostan yang berisi para akhwat yang terbina dengan baik akhlaq dan ilmunya. Wisma Tanjung Sebuah obrolan kecil turut saya dengarkan saat selesai isya. Teman yang baik hati yang suka rela menampung saya hari ini adalah seseorang yang beberapa minggu lalu kehilangan laptop dan HP nya. Teringatlah ia akan doa yang pernah ia panjatkan saat sedang menyusun skripsi. Ia memohon agar laptopnya tidak rusak ketika ia menyusun skripsi, dan jika harus rusak maka biarlah setelah ia lulus. Teringat pula ia akan doanya agar mendapatkan HP baru. Maka kecurian itu menjawab doa-doanya yang pernah ia panjatkan. Lama, lama itu terkabul. Maka Allah kabulkan doanya. Sambil tertawa dan merenung ia sadar kesalahan dari doanya sekaligus sadar ada konsekuensi bahkan dari doa yang kita panjatkan. Ia alpha menyebut "dengan cara yang Engkau ridhoi" Sederha...

Berat, rasanya

Selama sebulan ini sekolah mempersiapkan segala kebutuhan untuk akreditasi. Katanya, nyiapin akreditasi memang memeras tenaga, ternyata iya. Karena persiapan akreditasi yang berat ini bersamaan dengan beberapa agenda besar sekolah maka jadilah sungguh "terasa" berat. Ini memang akhir tahun ajaran, maka jangan lupakan rapot. Sebenarnya ingin sekali bisa produktif optimal dalam kegiatan2 dakwah yang dulu ketika berstatus mahasiswa dilakukan. Tapi mungkin ini adalah bagian dari adaptasi di mana kegiatan dakwah sesungguhnya sangat banyak bentuknya. Jangan lupa, bahwa segala aktivitas bergantung pada niat. Melakukan yang terbaik buat sekolah bisa jadi bentuk dakwah juga. Maka hari ini, mungkin beberapa orang tidak senang hati mengetahui saya yang "check lock" sebelum semua kegiatan lembur hari ini usai. Tapi janji tetaplah janji, janji bertemu adik" untuk memberi tambahan bekal yang sebenarnya bekal juga bagi saya. Janji yang sayangnya sudah terlanjur dibuat s...

Permintaan

Gambar
Kata orang, kualitas anak laki-laki dilihat dari kedekatannya dengan ibunya, sedangkan kualitas anak perempuan dilihat dari kedekatannya dengan ayahnya. Sampai hari ini saya masih percaya dengan kata-kata yang saya juga gak tau penelitian mana aja yang udah membuktikannya. Kedekatan antara orang tua dan anak adalah sesuatu yang pasti, meskipun dari apa yang saya pelajari selama kuliah, kedekatan itu bisa dalam bentuk yang secure atau insecure . Ketika pernah insecure bukan berarti akan selamanya begitu. Kalau sudah secure- pun bukan berarti tak akan jadi insecure . Manusia itu dinamis, jadi bergantung bagaimana orang tua dan anak saling belajar untuk menahan diri dari perilaku-perilaku yang saling melukai di antara keduanya. Mungkin itu intro yang apa banget buat tulisan kali ini, yang pada dasarnya nyeritain soal seorang anak perempuan dan permintaan bapaknya. Ketika seorang anak sudah bekerja, pasti dong ada keingininan buat dia beliin something buat keluarganya, sauda...

Ummi

Gambar
Ada sebuah alasan mengapa anak sulung yang sudah mempunyai segala yang ia butuhkan di luar sana kembali lagi dan lagi ke rumah yang sepi itu. Alasan itu adalah ummi. Keramaian di rumah ini dimulai oleh ummi. Oleh sautannya untuk makan, obrolannya soal kantor, obrolan soal adik-adik, obrolan soal asisten rumah tangga yang begini dan begitu, obrolan soal masa lalu, obrolan soal banyak hal. Demi mendengarkannya bercerita, demi melihat keceriaan di raut wajahnya, demi merasakan senyuman hangatnya, demi melihat sikapnya yang selalu ekspresif. Demi itulah si sulung pulang. Maka demi itu pula sepinya rumah tak akan pernah sesepi tanpa ummi, ketika ummi dinas ke luar kota atau kunjungan mandiri ke kakak-kakaknya misal.

Penulis

Gambar
Nulis itu bukan sesuatu yang mudah, kadang meski hobi, tapi kalo isinya curhat mulu emang jadi sebel juga bacanya. (ini ngomongin diri sendiri kok). Makanya kadang banyak tulisan saya yang berakhir jadi draft karena isinya kelewat curhat. Makanya suka sebel, iri, cemburu, plus kagum sama orang yang bisa produktif banget posting tulisan dan enak dibaca. Seenggaknya meski ga terus-terusan ada yang ngasih respon lewat komen, tapi punya tulisan yang selalu nyaman di baca apalagi pilihan katanya bagus, itu jadi keren banget, terlepas apapun isinya. Udah beberapa hari ini saya baca berbagai tulisan orang. Ada yang di web khusus berisi opini ada juga blog pribadi. Ada yang mengkritisi kondisi negara, perpolitikan, soal perasaan, soal ideologi, soal iman, banyaklah. Hampir semua tulisan yang saya baca bikin kagum dan bikin semangat nulis. Meski akhirnya gagal posting lagi dan lagi.

husnudzon

Banyak kata yang terlantun dengan indah menerpa hati. Bila diintip, sekilas tampak benar dan nyata, namun bila makin lama dipandang berjumpalah ia dengan harapan.  Pada zat yang maha mengatur segala urusan. Pada zat yang maha mengetahui segala sesuatu. Pada zat yang hanya kepadaNya kita memohon. Dengan kerendahan diri dihadapanNya, setiap tangan yang menengadah itu meneteskan permatanya dalam keheningan. Mengaharapkan yang tak diketahui buruk baiknya.  Mata yang terus menatap dalam, menemani kepala yang terus merendah. Menyadari bahwa segala urusan berada pada tangan yang tak mampu digapai. Apalah daya, harapan menjadi tujuan.  Jika berlari mendekat satu2nya cara, jika mendekat adalah satu2ya cara mengobati jantung yang kian berirama, maka mampukanlah tangan, mata, mulut,  kepala, dan hati hanya yakin kepada pemilik.  

Taukah kamu?

Gambar
Ini adalah cerita seorang sahabat dekat. Yang aku semogakan ia menikah tahun depan, tahun ini malah, semoga. Dia adalah seorang yang tangguh dengan kehidupannya. Berjuang keras untuk membalas pengkerdilan yang ia dapatkan. Membuktikan bahwa ia mampu. Kini aku melihat kesuksesannya untuk membuktikan semua yang ia gagali di masa silam. Terucap dari dirinya, sebuah kata yang bersimbolkan ketidakpercayaan diri. Sama seperti bagaimana kadang aku memandang diriku yang remah-remah ini. Calonnya adalah seseorang yang sangat cerdas, IPK nyaris summa cummelaude ketika lulus dari ITB Teknik Elektro. Kini diterima di 3 univ di luar negeri untuk sekolah lagi namun kemudian   menolak demi membersamai sahabatku di masa datang. Namun, begitulah ia, berucap padaku di chat personal sambil kubayangkan ia berkaca-kaca. Ia merasa kecil untuk diperjuangkan sebesar itu. Aku turut bahagia dengan rencana-rencana besar yang sudah ia susun, meski sebal terkadang dengan keras kepalanya yang berkali...