Postingan

Call me Bulan

Ketika kita mencintai apa yang kita lakukan, kita cenderung untuk melupakan waktu. Itu membuat kita agak terkejut ketika melihat ke belakang, betapa banyak waktu yang sudah kita lalui dan betapa cepatnya semua berlalu. Aku, seseorang yang baru akan di wisuda besok lusa, merasakannya. Karena begitu aku tersadar, keberadaanku sudah hampir genap enam bulan berada di sini. Di sekolah ini, bersama anak-anak kesayanganku, teman-teman kantor yang menyenangkan, sebagai seorang guru.

Hai kamu, ada apa?

Maghrib itu adalah sebuah kisah pilu sesudah berbuka yang aku dengar melalui diskusi ayah dan ibuku. Kisah itu menceritakan betapa di ujung tanduknya negara ini. Saking ngerinya, kisah itu, kisah tentang negara ini untuk pertama kalinya meneteskan air mataku. Kondisi umat muslim yang bagaikan buih di lautan sungguh nyata keberadaannya. Negara ini dalam ketidakberdayaan meski umat islamnya paling banyak. Turki di sebrang sana mengalami banyak tekanan dan ancaman hingga bom berkunjung ke sana beberapa kali demi menggoyahkan pertahanan Erdogan. Jelas saja para musuh sedang dalam ketakutan pada negara-negara muslim yang tengah berusaha bangkit. Turki, hanya salah satu dari banyak negara muslim lain yang sungguh luput kabarnya dari media mainstream di negara ini. Ada apa sebenarnya dengan Indonesia? Ada apa dengan krisis kepemimpinan Negeri ini? Betapa banyak umat muslim di nusantara ini yang rupanya begitu sulitnya bersatu menyelamatkan bangsa. Dukungan serentak pada negara-negara isl...

Catatan akhir kampus 2

Gambar
Sebagaimana layaknya seorang pegawai baru, begitupun aku. Aku merasakan bagaimana beradaptasi soal lingkungan sosial, transportasi, waktu, materi, dll. Ada bagusnya juga diterima kerja sebelum aku lulus. Sejujurnya kesibukan yang tercipta oleh aktifitas pekerjaan mengisi dengan baik waktu-waktu kosongku. Meski kadang juga malah mengambil waktu belajarku, tentu saja itu konsekuensi bekerja sebelum sidang -_-. Tidak terbayang jika aku tidak bekerja mungkin banyak waktu yang terbuang sia-sia karena kekosongan menunggu revisian, bosan, dll. Yaaaah tentu saja sebenarnya untuk seorang aktivis tidak ada istilah gabut, kalo memang ada waktu luang jelas sekali harus digunakan untuk memperhatikan organisasi yang masih aku jalani. Sejujurnya, mungkin prioritasku sudah agak berubah. Berubahnya prioritasku bukan berarti aku sungguh-sungguh lepas tangan dengan organisasiku, hanya saja waktu yang aku gunakan untuk mengelolanya jadi semakin dan semakin sempit. Aku pikir paling tidak aku memantau ...

Catatan akhir kampus 1

Gambar
Salah satu cara menuangkan gejolak pikiran yang mendidih adalah dengan menulis. Menulis kemudian menjadi hobi yang menghibur perasaan cemas atau gelisah yang melanda. Bagiku, menulis menjadi suatu hobi sekaligus obat. Tahapan kehidupanku detik ini berada di akhir tingkat empat di kampus. Ini menandakan bahwa masa-masa wisudaku harus segera terlaksana dalam jangka waktu beberapa bulan lagi. Syukurlah aku sudah melewati seminar hasil dengan cukup baik. Masa ini adalah di mana aku menyadari bahwa Allah memang senang memberikan kejutan bagi hambaNya. Banyak hal-hal tak terduga yang Ia izinkan terjadi padaku. Salah satunya adalah diterima sebagai staff pengajar di sekolah karakter, tepatnya di Indonesia Heritage Foundation. Tempat ini dulunya adalah tempat magang selama sebulan, tidak aku sangka akan menjadi guru SD di sekolah ini bahkan sebelum aku sidang hasil skripsi. Sebenarnya ini menjadi tantangan tersendiri. Jujur saja sebenarnya ada perasaan ingin bersenang-senang dulu, namun ...

Mengingatmu

Aku benci sekali setiap mengingatmu. Aku benci rindu yang menggoyahkan hatiku setiap kali aku teringat dirimu. Aku benci. Kalau saja aku tahu bagaimana menghentikan kegilaan ini, sudah sejak berbulan lalu aku hentikan. Tapi apa yang kamu lakukan terlalu penuh arti, bahkan terlalu berarti dan membuat ingatanku padamu bertahun-tahun lalu berubah rasa. Kau tak pernah tau bukan? Sekarang, hanya karena ujian dari penyegeraan adalah ketertundaan, aku jadi seperti teko air yang berbunyi ketika air mendidih. Berisik… “Apa yang dia lakukan tidak ada yang salah Da. Semua serba masuk akal, penuh kewajaran, dan dewasa!” Tessy setengah berteriak menasehatiku. Mungkin sudah tidak tahan dengan keluhan tidak masuk akalku. “Aaaah, baiklah! Ini memang cuma pikiran egois anak kecil. Ya, ya, ya, anggap saja dia tidak pernah menyelematkan aku dari kecelakan itu. Tidak pernah mengantarkan aku ke Rumah Sakit. Tidak pernah menungguiku saat itu, iyakan!” Kali ini aku tidak dapat lagi menahan keke...

My Faults

Banyak hari yang telah aku lewati. Bersama dengan sahabat-sahabat terbaik dan orang-orang yang menyayangiku. Adakalanya aku tidak dapat memahami tindakan mereka, kemudian dengan segala kepongahan dan rasa sombong aku artikan tindakan mereka dengan sudut pandangku seorang. Banyak kejadian yang kemudian membuktikan bahwa keegoisanku menjauhkanku dari mereka. Setiap hari aku lalui dengan penyesalan atas segala tindakan dan lisan yang menyakiti mereka. Apaguna penyesalan, lisan telah terlontar dan tindakan sudah terjadi, aku hanya bisa memaki diri. Beginikah kehidupan orang dewasa? Dahulu saat tubuhku setinggi meja belajar, aku lihat orang dewasa begitu penuh dengan kerutan, waktu mereka sedikit untuk membersamaiku, amarah mereka menjilat-jilat hari entah siang, sore, atau malam. Saat itu kepolosanku mungkin menjadi beban tersendiri. Saat itu tak aku mengerti bagaimana beban pikiran dan perasaan yang ditanggung orang dewasa.   Aku hanya mampu memohon maaf pada seluruh jiwa y...

Precious Experience

Seringkali kita menemui banyak hal baru dalam setiap perjalanan hidup yang kita lewati. Kemudian hal-hal baru memberikan kita warna baru dalam kehidupan yang kita jalani dengan berbagai macam makna di balik warnanya. Ada hal-hal baru yang membuat kita senang, sedih, takut, cemas, marah, atau kecewa. Tapi lebih sering hanya kita sendiri yang tau pasti pada titik yang mana suatu kejadian memberikan warna yang baru.