Catatan akhir kampus 2
Sebagaimana layaknya seorang pegawai baru, begitupun aku. Aku merasakan bagaimana beradaptasi soal lingkungan sosial, transportasi, waktu, materi, dll. Ada bagusnya juga diterima kerja sebelum aku lulus. Sejujurnya kesibukan yang tercipta oleh aktifitas pekerjaan mengisi dengan baik waktu-waktu kosongku. Meski kadang juga malah mengambil waktu belajarku, tentu saja itu konsekuensi bekerja sebelum sidang -_-. Tidak terbayang jika aku tidak bekerja mungkin banyak waktu yang terbuang sia-sia karena kekosongan menunggu revisian, bosan, dll. Yaaaah tentu saja sebenarnya untuk seorang aktivis tidak ada istilah gabut, kalo memang ada waktu luang jelas sekali harus digunakan untuk memperhatikan organisasi yang masih aku jalani. Sejujurnya, mungkin prioritasku sudah agak berubah.
Berubahnya prioritasku bukan berarti aku sungguh-sungguh lepas tangan dengan organisasiku, hanya saja waktu yang aku gunakan untuk mengelolanya jadi semakin dan semakin sempit. Aku pikir paling tidak aku memantau mereka secara personal, lagi pula posisiku sekarang PSDM. Jelas sekali sebenarnya apa tugasku, oleh karena itu aku sadar tak bisa aku melalaikan tugas berat PSDM untuk membentuk kualitas yang baik bagi penerus. Baik melalui pemberian pemahaman, perhatian, kepedulian, dll. Semoga dalam hal komunikasi ini, aku masih dapat optimal meski tidak bertatap wajah langsung dengan para adik-adikku.
Revisian skripsiku belum kembali ke tanganku dari dosen pembimbing. Aku harap ia mengizinkanku datang ke rumahnya besok siang atau pagi. Kalau bisa aku tidak ingin menggunakan exit* untuk mengambil revisian di hari senin. Apalagi perjalanan dari depok ke bogor tidak sebentar, belum lagi ke dramaganya. Jika besok revisian bisa kembali ke tangan, aku benar-benar bertekad menyelesaikannya sebelum senin tiba. Jikapun harus exit* akan kulakukan untuk melakukan progress lanjutan dari skripsi.
Ngomong-ngomong soal kerjaan, aku baru bisa libur tanggal 4 Juli. Maklum anak baru. Tapi instansi pendidikan tempat aku bekerja benar-benar keren, sekolah karakter yang berada di bawah naungan IHF benar-benar advance untuk setingkat sekolah swasta. Bagi staff guru yang belum menikah diberikan layanan mess. Kami hanya perlu membayar uang kebersihan dan listrik saja.
Selama beberapa minggu ini aku banyak bertemu wajah baru, entah itu anak bimbing ayahku, para karyawan yang sibuk di gerbong kereta, guru-guru di sekolah, driver Gr*bbike (baru 2x nyoba pake jasa ojek yang satu ini), dan teman-teman ayahku. Banyak bertemu hal baru menambah skema-skema di otak. Menciptakan beberapa ekspektasi untuk kehidupanku ke depan. Tentu saja juga sengaja menerka-nerka bagaimana cara aku beradaptasi dengan dunia baru ini. Meskipun seru kadang menyelinap juga rasa cemas, seperti pikiran "bisa gak ya gw bertahan di sini?, gimana ya nanti gw berhadapan dengan anak-anak?, atau tekanan kayak gimana ya yang siap menyambut gw" kata seseorang sih awal-awal kerja semua orang gitu. Yah aku pikir modal tampang sok cool bisa kali ya mengatasi kekhawatiran haha.
Kali ini, aku pikir aku sudah mengalami banyak perubahan ritme hidup, mungkin juga prinsip hidup. Ujian yang Allah berikan benar-benar manjur untuk membuatku melangkah maju. Alhamdulillah selalu bisa menjadi pribadi baru yang lebih baik setiap kali lembaran baru dimulai. Ada hal-hal yang tadinya terlihat rumit menjadi sederhana dengan kacamata baruku. Ada hal-hal yang tadinya terlihat berat menjadi ringan. Ada hal-hal yang tadinya aku sepelekan kini sangat aku perhatikan. Ada hal-hal yang tadinya biasa aku jadikan lelucon kini aku perhatikan dan tanggapi serius. Semua orang berhak berubah menjadi lebih baik dan semua orang berhak menilai diri kita termasuk bagaimana kita menilai orang lain. Tapi jangan pernah membiarkan orang lain memaksakan diri kita untuk menilai sesuatu dengan caranya. Selama kita memiliki prinsip hidup yang sesuai syariat, maka kita berhak menentukan sikap. Jika ada yang tidak suka, sampaikan saja prinsip hidup kita dengan jelas dengan cara yang baik. Jika setelah itu yang bersangkutan masih keras kepala, tinggalkan saja. Ini dunia orang dewasa, bukan remaja nanggung apalagi anak-anak.

Komentar