Mengingatmu


Aku benci sekali setiap mengingatmu. Aku benci rindu yang menggoyahkan hatiku setiap kali aku teringat dirimu. Aku benci.

Kalau saja aku tahu bagaimana menghentikan kegilaan ini, sudah sejak berbulan lalu aku hentikan. Tapi apa yang kamu lakukan terlalu penuh arti, bahkan terlalu berarti dan membuat ingatanku padamu bertahun-tahun lalu berubah rasa. Kau tak pernah tau bukan?

Sekarang, hanya karena ujian dari penyegeraan adalah ketertundaan, aku jadi seperti teko air yang berbunyi ketika air mendidih. Berisik…

“Apa yang dia lakukan tidak ada yang salah Da. Semua serba masuk akal, penuh kewajaran, dan dewasa!” Tessy setengah berteriak menasehatiku. Mungkin sudah tidak tahan dengan keluhan tidak masuk akalku.

“Aaaah, baiklah! Ini memang cuma pikiran egois anak kecil. Ya, ya, ya, anggap saja dia tidak pernah menyelematkan aku dari kecelakan itu. Tidak pernah mengantarkan aku ke Rumah Sakit. Tidak pernah menungguiku saat itu, iyakan!” Kali ini aku tidak dapat lagi menahan kekecewaanku. Meluap seperti air sungai dikala musim hujan.

Setengah tahun yang lalu, ketika aku masih aktif mengajar pada sebuah sekolah, aku bertemu kembali dengan teman SMAku. Kei, dia merupakan guru baru di sekolahku saat itu. Aku selalu menganggapnya adik kecilku. Meskipun usianya setahun lebih tua dariku. Mungkin karena ia terlalu periang dan penuh cerita. Kenangan ketika sekolah dulu tak pernah memiliki rasa ketika mengingatnya. Hanya teman SMA yang periang dan penuh cerita.

Aku merubah caraku mengenalnya ketika ia menjadi guru baru di sekolah. Ia tampak lebih dewasa dan pembawaannya cenderung lebih bijaksana. Tahun itu, kenangan saat sekolah dulu bersamanya menjadi berbeda rasa. Tahun itu, aku tidak lagi melihatnya sebagai adik.

“Kei!! Waaaw kok bisa kamu daftar jadi guru di sini? Kamu jadi guru apa? Katanya guru bahasa Indonesia ya?”

“Ah, Hei Nada. Iya aku guru bahasa indonesia baru di sini.” Senyuman ramahnya masih sama saat sekolah dulu. Matanya selalu ikut tersenyum ketika bibirnya tersenyum. Aku tak pernah bosan menatap senyum itu. “Jadi.. kamu guru seni di sekolah ini?”

Lamunan singkatku buyar “Eh..? Ahaha iya. Aneh ya haha, empat tahun kuliah di jurusan teknik kimia, aku malah lebih memilih jadi guru seni. Tapi aku juga ngajar les kimia untuk anak kelas tiga sih sepulang sekolah”

Saat itu jam pulang sekolah dan tidak ada jadwal les sepulang sekolah. Lama tidak bertemu dengan Kei membuatku jadi sedikit agresif. Dia adalah teman laki-lakiku satu-satunya, maksudku yang banyak berinteraksi denganku. Aku bukan tipe orang yang suka berinteraksi banyak dengan laki-laki. Namun kebocahannya ketika SMA dulu membuatku sempurna melihatnya sebagai adik. Meski kini tidak lagi.

Selama dua bulan awal keberadaannya di sekolah aku mengajaknya makan, berbincang panjang tentang masa SMA, saling tanya masa-masa kuliah, meski sebenarnya aku lebih banyak berceloteh. Kemudian aku menyadari ada yang berubah, Kei lebih pendiam kini.

“Kamu sekarang jadi lebih dewasa ya? Atau cuma nambah diem? Hahaha” Tak ada artinya aku tertawa, selagi jalan menuju jalan raya mencari angkot, tawaku bagaikan dihembus angin.

“Hmm, yah mungkin” Kei tersenyum tipis, tiba-tiba aku jadi grogi dan merasakan aura tidak nyaman meliputiku.

BRAAAAAK

Hari itu, aku hanya punya ingatan tipis tentang kejadian naas itu. Kei melindungi tubuhku dari tabrakan langsung angkot gila yang ngebut. Aku ingat ia memelukku dari belakang. Tas punggungnya yang cukup besar melindungi punggungnya dari hantaman keras, tapi dorongan itu membuat tubuhku terlepas dari genggamannya sehingga aku tersungkur dan kepalaku terbentur aspal. Temanku bilang saat itu kondisi Kei juga cukup parah, tapi dia malah menggotongku dan mengantarkan aku ke Rumah Sakit. Aku geger otak dan di rawat 2 bulan penuh, setelah kondisi vitalku kembali aku masih koma dan butuh  3 bulan untuk kembali terbangun. Ketika ingatanku kembali semua sudah terlambat. Bahkan untuk sekedar menyadarinya.

***

“Apa yang dia lakukan tidak ada yang salah Da. Semua serba masuk akal, penuh kewajaran, dan dewasa!” Tessy setengah berteriak menasehatiku. Mungkin sudah tidak tahan dengan keluhan tidak masuk akalku.

“Aaaah, baiklah! Ini memang cuma pikiran egois anak kecil. Ya, ya, ya, anggap saja dia tidak pernah menyelematkan aku dari kecelakan itu. Tidak pernah mengantarkan aku ke Rumah Sakit. Tidak pernah menungguiku saat itu, iyakan!” Kali ini aku tidak dapat lagi menahan kekecewaanku. Meluap seperti air sungai dikala musim hujan.

“Nada, banyak orang diluar sana yang sengaja menunda untuk sadar akan perasaannya, tapi takdir mengujinya dengan kesegeraan yang meletihkan hati. Kamu,,,, kamu sudah berusaha untuk menyegerakan kesadaran itu, tapi takdir menguji kamu lewat ketertundaan dengan kepergian Kei. Kamu cuma perlu sabar Da. Belajar menerima takdir, ingatan kamu bahkan baru pulih!!!” Aku tau Tessy pun tidak punya pemecahan masalah terbaik pada kondisi ini kecuali memintaku untuk kuat.

“…….” Aku sedikit terisak “Tessy, bahkan takdir ga mengizinkan aku untuk berterimakasih padanya. Bahkan aku ga pernah sadar lebih dulu dari dia….” Mataku banjir, Tessy hanya bisa memelukku sambil mengusap punggungku. Dijari manisku sudah melingkar sebuah cincin emas cantik dengan berhias permata kecil di sisi kiri dan kanan. Di baliknya terukir namaku.

Hari ini aku kuatkan diri untuk mendatangi Kei, dia sudah tertidur selamanya di bawah tanah ini. Tepat sehari sebelum aku sadar dari koma ia mengalami gangguan saraf akut akibat tabrakan saat itu dipunggungnya. Setelah kecelakaan itu ia tidak memeriksakan sekalipun kondisi saraf tulang belakangnya dan tanpa Kei ketahui kerusakan saraf tulang belakang menjadi alasan bagi maut untuk menjemputnya. Aku mendapatkan kabar bahwa seminggu sebelum aku sadar, Kei memasangkan cincin itu di jari manisku. Hampir setiap hari ia datang menjengukku, bercerita dan mengakui perasaannya ketika aku koma. Beberapa hari sebelum kematiannya ia menyampaikan niatnya untuk menggenapkanku.

“Kei, terima kasih banyak. Semoga baik kamu maupun aku bisa menerima ketertundaan ini. Terimakasih”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Slow Response

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!