Call me Bulan


Ketika kita mencintai apa yang kita lakukan, kita cenderung untuk melupakan waktu. Itu membuat kita agak terkejut ketika melihat ke belakang, betapa banyak waktu yang sudah kita lalui dan betapa cepatnya semua berlalu. Aku, seseorang yang baru akan di wisuda besok lusa, merasakannya. Karena begitu aku tersadar, keberadaanku sudah hampir genap enam bulan berada di sini. Di sekolah ini, bersama anak-anak kesayanganku, teman-teman kantor yang menyenangkan, sebagai seorang guru.

Siapa yang sangka mantan anak SD paling bengal, rusuh, kasar, dan pembenci matematika itu kini adalah seorang guru SD, seorang guru matematika pula. Anak yang ketika SD bersungguh-sungguh untuk membenci matematika dan berjanji tak akan menjadi guru. Begitulah masa-masa SD ku yang sulit, para pendidik dan orang tuanya masih kurang dari ilmu yang memadai untuk membina anak “spesial” sepertiku kala itu. Maka, disinilah aku menebus kesalahan itu dengan menjadi orang tua dan pendidik yang berusaha untuk mampu menghadapi segala ketakutan masa lalu, menghadapi berbagai keistimewaan yang setiap anak miliki, dan berusaha untuk memahami mereka lagi dan lagi.

Cinta dan benci memang nyata tipisnya. Maka aku berusaha sekuat tenaga untuk tidak membenci meski tak nyaman dan berusaha menahan diri meski cinta. Siapa yang tau pembenci guru dan matematika itu Allah hadiahkan keduanya sekaligus di usia dewasanya? Tapi apapun yang pernah aku lalui dengan pahit dimasa lalu itu, aku sangat bersyukur dapat membersamainya di masa kini.

Melihat anak-anak kesayanganku di dua kelas itu, rasanya membangkitkan semangat. Meski rasa malas mengetuk pintu hati lebih dulu, semuanya segera hilang ketika aku membayangkan mereka. Merekalah murid pertamaku, murid dalam makna sesungguhnya, dalam makna sebuah sistem pada sebuah sekolah. Mengingat mereka, bertemu mereka, membuatku selalu merasa di sayang. Meski ada yang sulit untuk diam di kursi, meski ada yang senantiasa butuh bimbingan menjadi pendengar yang baik, meski ada yang sangat menghindari pelajaran yang aku ajarkan (math), meski apapun hal-hal tidak nyaman yang kadang mereka lakukan atau ucapkan, aku tetap menyayangi mereka. Saat itulah aku merasakan betul apa yang disebut unconditional love.

Jadi guru bukan hal yang mudah, bukan memang. Tapi selama kita menyukai apa yang kita kerjakan, atau kita menemukan sesuatu yang membuat kita selalu nyaman ketika melakukannya, perasaan nyaman itu akan mampu mengobati hal-hal yang kita resahkan. Spesial Thanks to all of my beloved students. -Semoga kelak kalian akan selalu tumbuh menjadi pribadi yang menyenangkan, mengagumkan, dan membanggakan.-

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Slow Response

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!