Postingan

Yang Berganti dalam Nada yang Sama

Harusnya aku mampu sampai semua ini sungguh berakhir, harusnya semua ini baik-baik saja. Begitulah aku berandai-andai. Aku pikir bertahun-tahun dalam nada yang sama akan cukup membuatku resisten. Pikirku.. Entah bagaimana akhirnya aku malah berjalan pada takdir ini. Takdir yang membuat apa yang aku pikir aman menjadi ancaman Rasanya jauh lebih aneh dari takdir yang lalu-lalu, karena bukan sekedar jadi tak nyaman tapi aku jadi banyak bersedih. Kalut dalam-dalam karena khawatir Rabbku cemburu Aku meyakini bahwa menahan diri, menahan hati, menahan lisan, menahan pikiran, menahan mata, kini adalah kemuliaan yang harus aku pelihara. Di dalam yang terdalam aku tengok sang Malu, ialah harta paling berharganya wanita yang kini harus aku jaga sungguh-sungguh. Andai memang ini adalah ketentuanNya dan bukan permainan syaitan, maka kemulian ini layak sampai pada hakikatnya. Bila ini adalah permainan syaitan, maka sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sa...

Buat kamu *eaa #skip

Memilih pasangan itu bukan seperti memilih barang, yang mahal sekalipun , tidak. Karena memilih pasangan itu adalah memilih seseorang yang akan bersama kita hingga maut memisahkan, memilih seseorang yang mau memantaskan diri seumur hidupnya untuk kita dan kita pun mau memantaskan diri seumur hidup untuknya, memilih seseorang yang mau mendengarkan dan kitapun mau mendengarkannya, memilih seseorang yang karenanya ketaatan kita pada Allah bertambah dan ketaatannya kepada Allah pun bertambah. Bahkan untuk memilih pasangan, kita membutuhkan ilmu dan pemahaman yang memadai. Bukan sekedar ilmu persiapannya tapi juga ilmu ketika menjalaninya. Ilmu tentang akad yang membuat kita menyegerakan ketika tiada halangan hingga ilmu talak yang dengannya harus kita hindari. Note: Tulisan ini saya buat dalam rangka memberhentikan sementara obrolan soal Jodoh bagi diri saya sendiri yang akan dimulai besok. Why? Karena sungguh, obrolan yang semakin menjadi di semester 7 ini menyita pikiran dan waktu, ...

Begitulah...

Selalu ada sesuatu dalam diri seseorang yang membuat dia pantas untuk dirindukan meskipun begitu banyak kekesalan dan kekecewaan yang ia timpakan pada kita. Selalu ada sesuatu yang membuat seseorang pantas kita sayangi sekalipun kesalahannya seringkali membuat kita marah bahkan yg bersangkutan tak menyadarinya. Selalu ada sesuatu yang mampu membuat seseorang menjadi gagah berdiri tegap, siap menghalau segala kemungkinan terburuk, meski sebelumnya ia lembek dan payah.

Tak apa

Tersenyum, tersenyum saja. Tak apa, meski yang melihat hanya pantulan dirimu, itu tak apa. Tersenyumlah, lihat bagaimana indahmu ketika kau tersenyum. Tak apa, tak apa jika yang lain tak paham. Mungkin memang begini jalannya. Meski ku yakini selalu ada maksud dari sebuah pertemuan. Tersenyumlah, mudah-mudahan hatimu segera menyusul untuk tersenyum. Tak apa, tak apa bila agak berat. Tersenyum saja. :)

Berlari mengejarmu/Mu?!

Untuk postingan malam ini, sejujurnya saya tulis dalm kondisi padat merayapnya tugas. Hari ini adalah sabtu penuh cerita. bukan karena sekedar ada moment "something" di pagi harinya, tapi karena memang banyak cerita sampai ke malam harinya. Selama seminggu ini sejujurnya banyak sekali hal yang dipikirkan, direnungkan, disesalkan, dan yaaaaa,, katakan saja minggu ini adalah minggu goyah. Beberapa hari yang lalu aku tersadar bahwa aku rasanya telah jauh dariMu. Mengenang betapa setiap amalan ibadah yang aku lakukan rasanya agak sedikit hambar walaupun akhirnya beberapa hari yang lalu berhasil bergetar hati ketika namaMu terlantun ditelinga dan meleleh air mata ketika mengingat misi seorang khalifah di muka bumi.

Melihatmu

Kemarin aku bekukan pintu jalanmu. Ku tinggalkan, sungguh ku tinggalkan pintu itu dalam keheningan, kebekuan, dan debu. Tak pernah terpikirkan untuk suatu saat nanti aku sentuh. Hingga kemudian matahari terbit pada sisimu, mencairkan kebekuan pada pintu jalanmu. Entah atas alasan apa kubiarkan matahari mencairkan beku pada pintu itu.  Debu di pintu itu perlahan sirna oleh luberan air, perlahan beku itu mencair, membersihkan dengan sendirinya pintu yang kutinggalkan beku dan berdebu. Kini pintu itu tak lagi beku, tak lagi berdebu. Kemudian aku tersadar bahwa pintu itu siap terbuka, tapi aku masih membiarkannya dalam keheningan. Sadar tapi tak ingin, melihatmu datang dri pintu itu kini menjadi hal yg mungkin.  Entah kemudian apa yg membawaku berjalan menuju pintu jalanmu. Memberikan sedikit suara dan tak lagi membiarkannya dalam kehening. Pintu itu kini bersinar oleh pantulan matahari, berkilau oleh embun2 harapan. Meski tak kupahami betul apakah takdir yang akan datang...

Belajar untuk menegur

Ketika seseorang berusaha belajar akan sesuatu kita sebagai orang yang sudah lebih dahulu belajar dan kemudian paham haruslah mengetahui seberapa besar usahanya untuk belajar. Hindarilah menyalahkan apa yang ia pelajari dengan serta merta apalagi dihadapan orang banyak, hindari juga menyalahkan dengan kalimat tidak berperasaan, tapi tegurlah dengan lembut bila perlu gunakan kalimat tanya. Begitulah caranya kita meluruskan suatu hasil pembelajaran agar hati orang yang kita tegur tidak terlukai atau paling tidak ia tidak merasa sia-sia sudah belajar.