Yang Berganti dalam Nada yang Sama
Harusnya aku mampu
sampai semua ini sungguh berakhir, harusnya semua ini baik-baik saja. Begitulah
aku berandai-andai.
Aku pikir
bertahun-tahun dalam nada yang sama akan cukup membuatku resisten. Pikirku..
Entah bagaimana
akhirnya aku malah berjalan pada takdir ini. Takdir yang membuat apa yang aku
pikir aman menjadi ancaman
Rasanya jauh lebih aneh
dari takdir yang lalu-lalu, karena bukan sekedar jadi tak nyaman tapi aku jadi
banyak bersedih. Kalut dalam-dalam karena khawatir Rabbku cemburu
Aku meyakini bahwa
menahan diri, menahan hati, menahan lisan, menahan pikiran, menahan mata, kini
adalah kemuliaan yang harus aku pelihara.
Di dalam yang terdalam
aku tengok sang Malu, ialah harta paling berharganya wanita yang kini harus aku
jaga sungguh-sungguh.
Andai memang ini adalah
ketentuanNya dan bukan permainan syaitan, maka kemulian ini layak sampai pada
hakikatnya.
Bila ini adalah
permainan syaitan, maka sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.
Biar aku katakan, aku
akan egois bila belum sampai pada masanya. Memikirkan diriku sendiri,
keselamatanku sendiri, kupastikan aku sampai hati untuk mengabaikan.
Memang yang lain ikut
komentar, memang yang lain ikut bertanya, tapi aku akan bersikeras untuk tak
peduli. Aku yakini bahwa bila bukan haknya, tak pantas pula kupikirkan.
Kini nadanya masih
sama, tapi rasanya berganti, menggiringku untuk sembunyi dalam doa
Komentar