Belajar untuk menegur
Ketika seseorang berusaha belajar akan sesuatu kita sebagai orang yang sudah lebih dahulu belajar dan kemudian paham haruslah mengetahui seberapa besar usahanya untuk belajar. Hindarilah menyalahkan apa yang ia pelajari dengan serta merta apalagi dihadapan orang banyak, hindari juga menyalahkan dengan kalimat tidak berperasaan, tapi tegurlah dengan lembut bila perlu gunakan kalimat tanya. Begitulah caranya kita meluruskan suatu hasil pembelajaran agar hati orang yang kita tegur tidak terlukai atau paling tidak ia tidak merasa sia-sia sudah belajar.
Dalam dunia pendidikan kita banyak orang tua yang merasa serba berhak menyalahkan anaknya terhadap apapun yang ia pelajari apabila salah dengan cara seperti apa saja. Orang tua seringkali merasa superior, paling tahu, dan paling benar. Jarang orang tua yang ketika akan memberi tahu kesalahan anaknya memikirkan dahulu apakah caranya akan menyakiti hati anak, apakah akan menghancurkan perasaan dan usahanya?
Dalam tulisan kali ini saya sebagai seorang mahasiswa yang mendalami perkembangan anak dari salah satunya sisi mental mengajak teman-teman sekalian, siapapun anda, orang tua, kaka, saudara, teman, atau sebagai anak untuk kembali berkaca diri dengan cara berbicara dan bersikap. Apa-apa yang saya tulis ini bukan hanya saya tujukan untuk orang tua tapi juga siapa saja yang berada pada posisi lebih tahu dan mempunyai kemungkinan untuk menegur seseorang yang lain yang sedang belajar untuk tahu, terhadap apa? Terhadap apapun yang anda ketahui dan mungkin orang lain dapat mempelajarinya untuk tahu.
Disekeliling kita begitu banyak hal yang dapat dipelajari begitu banyak juga yang sudah kita pelajari tapi tentu disekitar kita ada orang-orang yang baru mempelajari apa yang sudah kita ketahui dan mengusahakan untuk mengerti dan paham. Kemudian sebagai apapun status kita, orang tua, teman, kakak, atau pimpinan tugas kita adalah mengarahkan, mendampingi, membantu anak, teman, adik, atau bawahan kita agar apapun yang sedang mereka pelajari menjadi lebih bermakna, baik, dan lurus dengan bantuan kita.
Berhati-hatilah dengan ucapan ketika kita mengarahkannya belajar, berhati-hatilah dengan sikap dan bahasa nonverbal kita ketika mendampinginya. Luka pada hati apabila kita lakukan akan membuatnya menjadi kapok belajar, berhenti mempelajari lebih jauh, atau bahkan menolak semua pelajaran yang berhubungan dengan apa yang sudah kita tegurkan dengan cara yang salah. Bayangkan kemudian apabila itu adalah pembelajaran mengenai agama baik tauhid, aqidah, akhlak, fiqh, atau apapun yg seharusnya ia pelajari.
Wallahua’lam semoga kita terus dapat belajar memperbaiki diri terutama dalam bersikap, berucap, berperilaku.
Komentar