Postingan

Belajar Menerima Kelebihan

Saat kita menjalani sebuah proses memilih, ada kelebihan dan kekurangan yang kita temui pada pilihan kita. Namun kebanyakan orang mempersiapkan diri menghadapi kekurangan saja. Padahal menerima kelebihan juga perlu disiapkan.  Contoh, saat akan membeli sebuah baju kondangan. Keputusan memilih sudah diambil, jatuhlah pilihan pada baju berpayet indah, dengan warna pastel, dan terdapat kerlipan2 dibajunya, namun sayang lapisan dalam baju tersebut berbahan agak panas. Maka sang pemiliknya menyiapkan kipas untuk mengantisipasi kekurangan baju indah tersebut.  Jika kita lihat dari sudut pandang kelebihannya, baju tersebut memiliki warna pastel yang sesungguhnya rawan saat terkena noda. Belum lagi kerlipan pada baju yang beresiko menempel di muka saat tangan menyentuh baju kemudian tangan menyentuh wajah setelahnya. Tapi pemilik baju tidak menyiapkan diri menerima kelebihan tersebut.  Bagaimana jika kita ambil contoh lain. Anggaplah kita membeli HP keluaran terbaru...

Fear

Gambar
Waktu masih kecil dulu, ada sebuah acara TV yang berjudul Fear Factor. Mungkin anak lahiran tahun 90-an pernah nonton acara ini. Ini adalah sebuah acara luar negeri yang disiarkan ulang di Nusantara. Hal yang paling menarik dari acara ini adalah karena setiap peserta ditantang dengan hal yang bisa jadi paling mereka takuti.  Mengingat acara TV ini saya kemudian menyadari bahwa ada hikmah yang bisa diambil dari acara TV tersebut. Punya perasaan takut sesungguhnya adalah sebuah insting untuk melindungi diri dan hal tersebut alami. Tapi tentu saja sangat mungkin kita memiliki keadaan di mana kita harus menghadapi ketakutan tersebut. Lalu bagaimana caranya? Maka acara Fear Factor tersebut membuat saya sadar bahwa ketakutan hanya mampu kita kalahkan dengan menghadapinya. Tidak sederhana, tidak mudah, dan juga tidak ringan. Menghadapi ketakutan adalah hal yang perlu niat yang kuat dan usaha yang keras. Jadi hal yang semakin sulit untuk dihadapi saat ketakutan itu bukan saja me...

Adaptasi

Gambar
Minggu ke-4 di bulan Oktober. Adalah minggu paling hectic dan luar biasa sepanjang tahun 2019. Tapi gapapa, kadang hidup begitu, ada aja waktunya lenggang banget, sekalinya padat,luar biasa.  Pada tulisan kali ini ada sebuah momen spesial yang akan saya bahas yang berhubungan dengan adaptasi. Manusia, menurut ilmu pengetahuan alam, adalah makhluk yang diberikan kemampuan adaptasi yang tinggi. Selain karena proporsi bentuk tubuhnya yang memungkin mobilitas dengan berbagai cara, manusia juga diberikan kelebihan akal sehingga mampu berpikir dan memunculkan inovasi dan ide untuk menanggulangi hal-hal yang terjadi kepada dirinya dengan cara paling efektif.  Tapi bagi manusia maupun makhluk lain (baca: tumbuhan atau hewan) adaptasi adalah hal yang membutuhkan effort, penuh dengan rasa tidak nyaman, dan mungkin mengakibatkan hilang atau bertambahnya aspek-aspek dalam individu itu sendiri. Tapi begitulah adaptasi bekerja.

Berbeda

Cara berpikir laki-laki dan perempuan berbeda. Sudah cukup banyak penelitian yang membuktikannya. Sudah cukup banyak juga seminar persoalan hal ini. Maka mungkin tulisan ini sekedar membahas part kecil dari seluruh isi seminar dan hasil penelitian itu.  Perempuan, berdasarkan hasil penelitian lebih mampu untuk multitasking dibandingkan laki-laki. Tentunya hal itu karena bentuk struktur otaknya pun berbeda. Tidak heran jika laki-laki sulit untuk berganti fokus secara cepat pada beberapa aktivitas dalam satu waktu. Maka saat ada satu kegiatan yg dilaksanakan fokus pikirannya akan pada satu itu dan cenderung pada satu saja.  Perempuan? Bahkan saat sedang mengajar, otak perempuan bisa sekaligus menyusun rencana untuk kegiatan selanjutnya. Atau saat sedang membuat revisian skripsi, bisa sambil ikut rapat online dan memberikan ide, dan disaat yang sama makan kripik.  Coba liat bapak-bapak, mungkin saat beliau sedang fokus dengan acara TV nya, panggilan kesekianla...

Memahami Kesendirian, Menikmatinya.

Gambar
Dulu sekali, sulit sekali rasanya menikmati kesendirian. Rasanya sendiri selalu berarti sepi. Mungkin karena dulu aku belum mampu berinteraksi sekaya hari ini dengan diriku sendiri. Mungkin karena dulu aku belum bisa sedalam itu memaknai kehadiran Allah SWT yang begitu dekatnya. Memaknai kesendirian hingga menikmatinya butuh waktu. Butuh pengalaman. Butuh pelajaran. Butuh komunikasi.  Sekarang, aku malah sengaja mencari kesendirian, untuk sekedar merenung, membaca, menulis, memperhatikan jalannya kehidupan sosial di sekitar, atau untuk sekedar menyelesaikan tugas-tugas dengan lebih khusyuk. Tentu saja berada di antara orang-orang terdekat dan tersayang adalah hal yang membahagiakan dalam sudutpandang yang lain. Tapi bahkan Rasul sekalipun punya saat-saat di mana beliau mencari kesendirian itu.  Sendiri, tentu saja kita sampai kapanpun tak akan sungguh sendiri. Selain karena Allah SWT selalu bersama kita, melihat, mendengar, dan tahu segala hal yang kita laku...

Slow Response

Gambar
Pernah ga kalian mengalami sebuah kejadian atau momen, sampai keesokan harinya kalian masih ga yakin itu terjadi bahkan sampai berbulan-bulan berlalu kalian masih ga yakin itu kejadian. Atau pernah ga kalian mengalami suatu kejadian epic  trus secara realtime  kalian menghadapinya dengan gagah berani dan cool , tapi waktu kejadian epic  itu berlalu dan kalian tinggal dengan diri kalian sendiri di waktu yang berbeda, barulah fungsi sistem limbik kalian terstimulasi kenangan pada kejadian epic itu dan diri jadi ga karuan menghadapinya sendirian? Kalo di antara kalian ada yang demikian, syukurlah, artinya saya ga sendiri.  Engga curhat sih, engga salah maksudnya. Tapi, seperti biasanya, kehidupan ini setiap harinya menyadarkan bahwa Allah SWT mengajari kita sesuatu. Sehingga selama menjalani usia 20 tahun-an saya punya kesimpulan soal takdir yang Allah tetapkan pada kita..... Takdir (bagi orang beriman) adalah rangkaian cinta yang Allah sediakan bagi ...

Vakum

Ingat? semua hal dalam hidup punya pilihan, dan setiap pilihan juga punya konsekuensi. Siapa sangka kadang kita berada dalam kondisi sulit untuk mempertahankan tindakan. sehingga menghilang seperti satu-satunya pilihan. Tapi karena kondisi itu kita jadi sadar bahwa kita memang harus banyak bermuhasabah diri.