Adaptasi
Pada tulisan kali ini ada sebuah momen spesial yang akan saya bahas yang berhubungan dengan adaptasi. Manusia, menurut ilmu pengetahuan alam, adalah makhluk yang diberikan kemampuan adaptasi yang tinggi. Selain karena proporsi bentuk tubuhnya yang memungkin mobilitas dengan berbagai cara, manusia juga diberikan kelebihan akal sehingga mampu berpikir dan memunculkan inovasi dan ide untuk menanggulangi hal-hal yang terjadi kepada dirinya dengan cara paling efektif.
Tapi bagi manusia maupun makhluk lain (baca: tumbuhan atau hewan) adaptasi adalah hal yang membutuhkan effort, penuh dengan rasa tidak nyaman, dan mungkin mengakibatkan hilang atau bertambahnya aspek-aspek dalam individu itu sendiri. Tapi begitulah adaptasi bekerja.
Kita tidak menjadi orang lain saat kita bersikap berbeda pada lingkaran yang berbeda. Kita hanya menyesuaikan frekuensi pada lingkaran yang kita tempati. Ada yang merasa biasa saja dengan sikap yang berbeda di setiap lingkaran. Ada pula yang merasa tidak nyaman dan berharap bisa bersikap sama di setiap lingkaran. Tentu perlu kita pahami bahwa ketika kita berada pada sebuah lingkaran kita harus mengingat kembali apa tujuan kita berada pada lingkaran tersebut? Dengan mereview kembali tujuan kita, kita bisa memutuskan penyelesaian terbaik dan menanggulangi rasa tidak nyaman dari sikap yang sebetulnya tidak ingin kita keluarkan.*
Jika kita kembalikan persoalan adaptasi, nyaman tak nyamannya pada garis syari'at, maka kita harus membuka kembali bab iman kepada qada dan qadar. Juga mengembalikan keadaan kita pada ayat yang berbunyi Lā yukallifullāhu nafsan illā wus'ahā (QS 2:286). Bahwa sesungguhnya Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Husnudzon pada Allah tentunya meliputi bagaimana kita memandang masalah yang ada di hadapan kita. Allah SWT pasti paham bahwa kita sesungguhnya mampu beradaptasi dengan kondisi tersebut dan menemukan jalan keluarnya. Diberikan masalah yang demikianpun Allah katakan dalam AlQuran bahwa hal tersebut untuk menguji keimanan kita. Ditambah bahwa pada setiap masalah yang berhasil kita lalui ada sebuah skill yang bertambah. Sedangkan saat kita melarikan diri dari masalah tersebut, maka yakinlah masalah tersebut hanya akan muncul pada waktu yang lain dengan judul yang sama.
Setelah memberikan pemaparan tentang adaptasi di atas, saya jadi merasa perlu mendengar nasehat yang sama dari mulut selain mulut sendiri. Berbicara memang ringan, teori itu ringan, apa yang menyebabkan ilmu berharga adalah karena prakteknya, karena keberfungsiannya. Maka dengan sangat senang hati saya menerima saran dan masukan bagi siapa saja yang ringan lisan untuk turut menasehati.

Komentar