Postingan

Belajar untuk menegur

Ketika seseorang berusaha belajar akan sesuatu kita sebagai orang yang sudah lebih dahulu belajar dan kemudian paham haruslah mengetahui seberapa besar usahanya untuk belajar. Hindarilah menyalahkan apa yang ia pelajari dengan serta merta apalagi dihadapan orang banyak, hindari juga menyalahkan dengan kalimat tidak berperasaan, tapi tegurlah dengan lembut bila perlu gunakan kalimat tanya. Begitulah caranya kita meluruskan suatu hasil pembelajaran agar hati orang yang kita tegur tidak terlukai atau paling tidak ia tidak merasa sia-sia sudah belajar.

Ketika momen-momen itu tiba.

Sebagai seorang manusia dalam usia dewasa awal, maka terasa wajar apabila begitu serius membicarakan masa depan. Keseriusan akan obrolan ini semakin terasa hangat apabila dikerucutkan dalam topic pasangan masa depan. Mari kita kutip satu bait sebuah lagu tulisan kang abay “Namamu rahasia, tapi kau ada di masa depanku”.  Ah, kalimat itu memberikan suatu kepastian yang tidak pasti bukan? Membicarakan perasaan cinta kemudian tidak akan terasa membosankan apabila yang berbicara dan yang mendengarkan sedang mengetahui rasanya. Perasaan yang berbagai macam jadi satu, senang, gelisah, khawatir, itulah bagaimana aku mendeskripsikan rasanya. 

Mengenal -lebih jauh- Pengurus BIRENA 2014 dan 2015 di IYC 1436H

Hari ini adalah hari berakhirnya program kerja IYC 1436H. IYC kali ini adalah IYC ke-2 yang aku ikuti sebagai seorang panitia. IYC biasanya menjadi ajang bagi para pengurus Birena untuk saling mengenal satu sama lain baik sesama akhwat maupun akhwat-ikhwan. Saling mengenal dan memahami ini kemudian menjadi poin yang nantinya akan mensolidkan dan menguatkan komitmen tiap individunya. Berikut adalah pemaparan dari sudut pandang saya kepada para pembina yang masih aktif hingga kegiatan IYC hari ini. -sesungguhnya setiap kalian adalah inspirasi dan teladan bagi saya-

Keluarga Indahku di Kampus

Gambar
Setelah sekian lama vakum dari dunia tulis menulis ternyata hal yang kali ini aku tulis adalah seputar mereka. Mereka yang sudah aku anggap menjadi bagian dari keluarga meskipun tanpa ikatan darah. Mereka ada yang saling kenal satu sama lain, ada yang hanya sekedar tahu, ada juga yang tidak saling mengenal (belum). Meski begitu saya pribadi menyayangi mereka, tiap individunya, dengan cara berbeda. Luthfi Afriani Dialah teman seperjuangan sejak TPB hingga menjadi teman sekamarku dikostan. Saya anggap ia saudara saya dan tentu ialah saudara seiman bagi saya. banyak hal senang dan susah yang kami lalui. saking banyaknya malah cape duluan sebelum ditulis. hha. Birena Al-Hurriyyah Keluarga yang kemudian membuat saya nyaman berlama-lama dengan mereka. menikmati setiap hembusan ketaatan ketika bersama mereka. Merasakan setiap kecerian yang kemudian berisi keseriusan dalam membina. Mengecap rasa sayang antar satu dengan yang lain, tanpa  melihat angkatan, tanpa melihat jabat...

Menjadi Seperti Aku

Gambar
Terinspirasi dari drama korea yang berjudul “Producer”, itulah alasan mengapa kemudian saya menulis dengan judul seperti di atas. Ada suatu masa di mana ketika kita merenungkan diri -dengan perilaku yang sudah kita perbuat kepada orang lain yang kita ketahui dampaknya bagi diri kita sendiri dan orang lain- kita kemudian tersadar begitu banyak bentuk sikap yang kita keluarkan dengan tidak konsisten dari satu orang ke orang lain. Terasa begitu banyak cara bagi kita untuk menghadapi orang lain sehingga kemudian kita bertanya, aku yang sesungguhnya seperti apa? Begitu banyak cara yang bisa manusia lakukan untuk beradaptasi dengan lingkungannya, banyak cara yang digunakan untuk menjadi fleksibel dengan berbagai jenis orang. Tanpa sadar kemudian tindak tanduk kita terlalu banyak terinterfensi oleh orang lain, terlalu banyak campur tangan orang lain yang mempengaruhi diri kita, terlalu banyak pengendalian oleh lingkungan yang membuat kekonsistenan dalam diri yang seharusnya ada m...

-Abi-

Gambar
Banyak hal yang sebenarnya bahkan lebih dari pantas untuk ditulis, bahkan seharusnya dituliskan sejak dulu agar lebih banyak yang abadi meski hanya di internet. Entah dari mana aku harus bercerita, mungkin inti dari tulisan kali ini adalah tentang Abi. Ya Ayahku. Gelarnya memang Dr. Engineering (Eng) tapi sejauh apapun gelar yang akan ia dapat meski sampai ke gelar professor pun dia tetap seorang ayah dalam keluarga. Namanya Taufik ketika ia lahir tahun 1970, sungguh hanya satu kata itu. Namun kini namaya sudah menjadi Taufik Djatna.  Banyak hal yang terus berubah dalam dirinya, banyak pula hal yang tetap ada sehingga mencirikan drinya sendiri. Seperti normalnya manusia, ada yang menyukainya ada pula yang tidak menyukainya. Ada yang aku banggakan pada dirinya ada pula yang aku kecewakan. Bagiku mungkin dia adalah ayah dengan kata maaf terbanyak untuk putrinya dalam sebulan. Ayah terlembut   dengan elusan tangannya di kepalamu meskipun dia keras. Sifat tegasnya banyak ...

Mari Ambil Langkah Baru

Terakhir kali saya membuat tulisan???? MasyaAllah kapan ya?? padahal salah satu ciri manusia yang produktif dapat dilihat melalui frekuensi ia menulis dalam sebulan. Bahkan melalui tulisan kita bisa melihat dinamika hidup seseorang tersebut. hmm apa kira-kira topik tulisan kita sekarang ya?? UTS semester 5 sedang berlangsung dan ini adalah hari ke 3 saya ujian. Saya punya target yang bisa dikatakan terlalu muluk untuk semester ini -apabila teman-teman tahu IP saya semester lalu-. Saya punya target IP 4 semester ini, yang mana sebelumnya saya ga pernah mau menargetkan segitu. Disaat semua orang berkoar-koar mau IP 4 saya malah minta 3 koma saja. Disaat orang-orang sudah mulai menurunkan tergetnya karena perkuliahan yang tidak seindah bayangan saya malah menaikan target IP. Terkait tindakan saya ini, apa pendapat teman-teman?  Saya mulai banyak berpikir semester 5 ini, terutama setelah saya nge-kost dan dapat matakuliah MPPI (metode penulisan dan penyajian ilmiah). Saya ...