Mertua-Menantu
Agak lucu sih mau bikin tulisan ini karena belum ada pengalaman, tapi berhubung banyak pasangan muda di kantor dan banyak sharing2 pasangan muda yang yah,, begitulah. Kita anggap sebagai pembelajaran sebelum terjun langsung ke medan saja-lah ya.
Sebetulnya dalam pembelajaran saat kuliah dulu (mengenai matakuliah perkembangan keluarga) dinamika mengenai hubungan suami-istri, mertua-menantu, dan orang tua-anak sudah dijelaskan secara teori dengan pemaparan faktanya melalui hasil-hasil penelitian kualitatif dari luar dan dalam negeri.
Tapi teori dan praktek memang harus bersamaan untuk berjalan. Karena faktor X setiap orang pasti berbeda.
Terlepas dari itu, mari kita bahas tentang hubungan mertua-menantu. Momok yang ternyata cukup sering jadi curhat colongan para menantu perempuan di kantor. Padahal barang kali menantu laki2 punya cerita juga ya. Tapi saya bisa dibilang hampir tidak pernah ngobrol sama bapak2 di sekolah ini jadi gak tau juga ya.
Mendengar (saya bener2 jadi pendengar aja) curcol-curcol menantu perempuan di sini membuat saya belajar bagaimana pentingnya membangun bonding dengan calon mertua kelak dan komunikasi efektif efisien dengan calon pasangan.
Isi curcolan teman-teman kebanyakan adalah keterlibatan mertua perempuan dalam keluarga baru, misskom antara mertua menantu, cemburunya menantu perempuan, dan kemampuan suami dalam membalance hubungan dengan istri dan ibunya.
Tapi semua masalah yang terpapar mengenai dinamika keluarga ini bukan dipaparkan untuk menumbuhkan kekhawatiran, justru membangkitkan semangat dan mengencangkan sabuk agar bisa meningkatkan kesantunan, kesabaran, dan komunikasi kita agar lebih efektif kelak.
Jadi, membaca fiqh mengenai pernikahan jangan hanya fokus pada bab antar pasangannya saja. Tapi juga bab mertua-menantu. Mudah-mudahan kita jadi lebih siap setelah lebih banyak belajar dan memahami.
Komentar