Anak-Anak
Keburukan harus diperbaiki bukan dianggap biasa.
Melihat anak2 zaman dulu dan zaman sekarang pastilah ada perbedaan yang dapat kita amati. Namun bukan semua hal yang berubah. Ada hal-hal crucial yang tidak berubah hingga kini dan cenderung dianggap hal yang biasa ketika itu terjadi pada anak-anak.
Bullying
Baik secara verbal maupun fisik. lantas orang dewasa hanya berkata "namanya juga anak-anak". Namun ketika anak mereka menjadi korban, mereka turut ikut campur dan memarahi si pembully sehingga tanpa sadar anak mereka tidak belajar melindungi dirinya dan berkemungkinan semakin dibully.
Ini adalah persoalan sistem pada pendidikan kita di rumah dan di sekolah. Orang dewasa mungkin alpha akan adanya resiko jangka panjang yang maha dahsyat yang akan mengintai anak2 mereka.
Kekerasan verbal dan fisik akan menggiring anak kepada kerusakan mental dan depresi. Orang dewasa bisa saja menganggap itu sepele, karena mereka mungkin tak tau lagi cara berpikir anak2. Anak-anak adalah bagian dari masyarakat yang rentan, secara fisik maupun psikis. Inilah mengapa, pengalaman SD menjadi banyak dari pengalaman yang kita ingat.
coba kita list apa saja yang kita ingat ketika SD:
1. Penggaris kayu besar ibu bapak guru
2. Panggil2an nama orang tua
3. Bu guru atau pak guru yang melempar kapur atau pengapus
dan mungkin juga banyak ingatan yang baik2.
Tapi kebanyakan dari kita "sekarang" ingat betul 3 hal di atas. Ada yang mengingatnya sambil tertawa? pertanyaannya adalah... masa kanak2 begitu melekat bagi diri kita. Mengapa harus yang buruk yang awal teringat? Apakah kita akan membiarkan hal buruk tersebut menjadi hal yang biasa meski zaman berganti dekade lamanya?
Ada hal maha utama yang harus kita ubah agar generasi kita semakin berkualitas, yaitu cara pikir dalam memperlakukan anak dan perbaikan sistem pendidikan. Orang tua dan guru memiliki otoritas yang tinggi terhadap anak. Maka menjadi orang dewasa yang bijak adalah kewajiban kita baik di rumah maupun di sekolah. Sedangkan mendapat perlakuan dan pendidikan yang pantas dan aman adalah hak anak.
Jangan lagi kita sepelekan kekeresan verbal, apalagi menganggap biasa ketika terjadi antara anak-anak (lebih parah antara orang dewasa pada anak). Secara tidak sadar kita sedang membiarkan generasi tersebut menjadi generasi 0 dari kesantunan dan rasa hormat pada sesama.
Bukan kepada orang tua ataupun guru. Menghormati adalah tugas setiap individu kepada individu lain. Menumbuhkan Karakter baik tidaklah seperti menumbuhkan tanaman toge, menumbuhkan karakter baik adalah kerja keras dan kerja konsisten orang dewasa dan sistem. Kita punya andil dan itu adalah tanggung jawab kita bersama.

Komentar