Sulit
Teringat masa sulit
itu. Di mana kedamaian terasa mahal. Pertemanan terasa menyakitkan. Kesalahan dan
kegagalan adalah bagian diri. Seringnya kemurungan berlari bolak-balik melalui
diri. Berat bagi diri menjadi berat bagi pemegang amanah.
Siapa yang
dipersalahkan saat itu, pemegang amanah. Kini? Tak perlu ada yang disalahkan,
ketika kita menyadari bahwa Illahi hanya ingin kita menjadi pribadi yang kuat
dan belajar berempati dari masa lalu.
Kini, mengingatnya
kembali tak terasa seperih dulu. Pemegang amanah telah mengakui keberhasilannya
menanjak gunung yang begitu terjal bebatuannya. Mengagumi kegigihannya dan
memberi perlindungan yang tak utuh diberikan sebelumnya.
Pilihan-pilihan hidup
tanpa sadar beracuan pada masa-masa sulit itu. Bertekad untuk keluar dari
segala cacian yang meremehkan, membalas semua pengkerdilan itu, dan berjanji
untuk memberikan dan menyikapi jauh lebih baik pada si kecil besok. Tanpa sadar
semua tekad itu mengkristal menjadi cita-cita. Melaluinya dengan proses yang
penuh kesungguhan, berharap bekal selama perjalanan ini cukup untuk membayar
perih yang lalu.
Perih dan sulit,
kalian akan segera terbayar. Janji.

Komentar