Penulis
Nulis itu bukan sesuatu yang mudah, kadang meski hobi, tapi
kalo isinya curhat mulu emang jadi sebel juga bacanya. (ini ngomongin diri
sendiri kok). Makanya kadang banyak tulisan saya yang berakhir jadi draft karena
isinya kelewat curhat. Makanya suka sebel, iri, cemburu, plus kagum sama orang yang
bisa produktif banget posting tulisan dan enak dibaca. Seenggaknya meski
ga terus-terusan ada yang ngasih respon lewat komen, tapi punya tulisan yang
selalu nyaman di baca apalagi pilihan katanya bagus, itu jadi keren banget, terlepas apapun isinya.
Udah beberapa hari ini saya baca berbagai tulisan orang. Ada
yang di web khusus berisi opini ada juga blog pribadi. Ada yang mengkritisi
kondisi negara, perpolitikan, soal perasaan, soal ideologi, soal iman,
banyaklah. Hampir semua tulisan yang saya baca bikin kagum dan bikin semangat
nulis. Meski akhirnya gagal posting lagi dan lagi.
Ada orang yang lancar banget nulisin kondisi yang dia hadapi
dengan rangkaian yang bertingkat penuh makna dan bikin terkagum sendiri ketika
baca. Ada orang yang ketika mengkritisi fenomena keliatan banget berilmunya,
nyantumin hukum ini itu, ayat, hadits, pemikiran-pemikiran ahli, dan dia
rangkai dengan penjabaran yang sesuai. Selain keliatan berilmunya, yang baca
ikut berasa nambah ilmu. Ada juga orang yang nulis sesuatu base on pengalaman banget. Bahasanya sih sederhana tapi nyampe ke
pembaca apa yang dia rasain, sehingga kita bisa paham kenapa dia begitu. Plus nya, kita bisa belajar gimana cara
orang lain berpikir dan melihat dunia.
Kadang saya ngerasa, diskusi secara lisan lebih mudah
daripada nulis, karena ngobrol akan membuat kita menatap orang yang mendengar Kan obrolan kita dan dia akan melihat raut wajah kita, mendengar intonasi, dan melihat cahaya perasaan kita lewat mata. Nulis kadang kerasa sulit karena nulis harus pake perasaan yang kuat supaya bisa ngalir
dan enak di baca. Tapi sometime,
nulis jadi terasa lebih ringan ketika kata-kata secara lisan ga bisa mewakili
pikiran dan perasaan,, atau ketika lisan udah ga mampu lagi menyentuh hati
seseorang. Apalagi kalo nulisnya di kertas.
Saya jadi inget, gimana awal cerita saya suka nulis. Itu
adalah waktu saya kelas 3 SD atau sekitar usia 7 tahun (saya masuk SD umur 5
thn). Waktu itu, sebagai seorang anak rasa-rasanya menyampaikan maksud dan
perasaan hingga tuntas terasa berat dan sulit. Apalagi posisi sebagai anak
pertama yang hobinya saat itu ngebantah terus, bikin orang dewasa males
dengerin. Maka cara paling cerdas yang bisa saya lakukan untuk menyampaikan
perasaan dan pikiran saat itu adalah menuliskannya pada secarik kertas yang
kemudian diselipkan di bawah pintu kamar orang tua atau diselipkan di dalam
lemari orang tua. Berharap mereka kepo sama kertasnya dan baca.
Ternyata menulis bisa membantu saya untuk berkomunikasi
lebih baik, dan menyampaikan maksud dengan lebih bening. Cara itu bahkan masih
berlaku bagi saya sekarang, bukan cuma untuk orang tua lagi, tapi buat temen,
buat murid, buat adik, buat siapapun yang menurut saya perlu mendapatkan
informasi tapi lisan ga cukup ngewakilin itu.
Iya sih, bahasa tubuh bisa lebih kuat pemaknaannya. Tapi ga
semua orang cukup peka buat memaknainya. Sebenernya sama juga kayak ga semua
orang rajin mau baca postingan kita berulang kali (biasanya pemahaman akan
bacaan lebih mendalam dengan pengulangan), jangankan diulang, sampai beres juga
belum tentu. Tapi,, ya itulah tulis menulis, para penikmatnya, orang-orang yang
nyaman membiarkan jari-jarinya menari di atas keyboard, akan berusaha untuk
menyalurkan hobinya meskipun kerjaan kantor lagi banyak deadline dan mencekik
sanubari (lebay). Kayak saya yang sekarang lagi dikejar 4 deadline tapi
bener-bener kepengen nulis.
Siapapun kalian yang punya hobi (apapun), berusahalah untuk
produktif dengan hobi kalian. Andai hobi kalian adalah jalan untuk melapangkan
pikiran, maka produktiflah, sempatkanlah. Memang itu gunanya hobi. Terakhir, terimakasih
buat semua penulis, tukang nulis, penulis pro, pokoknya yang suka nulis. Kalian
semua menginspirasi.

Komentar
Sama berarti ya, ane termasuk yang susah mengungkapkan perasaan lewat lisan, jadi akhirnya hanya bisa tersalurkan lewat tulisan..