Memahami Kesederhanaan


Angin malam berhembus pelan. Cukup untuk menusukku hingga ketulang. Aku mencoba meraba hujan yang mulai turun malam ini. Rasanya dingin, bahkan hingga ke hatiku. Mungkin memahami semuanya hanya cukup dengan kesederhanaan, sesederhana ketika aku menyentuh hujan. Bahkan Sang Pencipta telah memberikan segala jawaban pada surat cinta yang Ia kirimkan. Betapa sederhananya ketika aku baca jawabanMu. Kesederhanaan itu membuatku berpikir dalam. Memampukan air mata yang sejak lama bergantung saja di mata terjatuh ikhlas.

Adakah aku lalai sehingga kesederhanaan ini tak segera sampai ke hatiku? Ataukah aku yang terlalu sombong untuk tidak meminta pemahaman padaMu? Ataukah aku yang terlalu yakin sehingga memohonkan hidayah bagi hatiku yang lebam tak ku pinta dalam sujudku? Betapa banyak nikmat yang kau sajikan dalam kegelisahan ini namun telat pula kusadari. Adakah kiranya aku memaksa secara halus padaMu padahal hanya Engkau yang maha Mengetahui segala yang terbaik bagi hambaNya…

Hujan mulai reda, hembusan angin malam mulai beristirahat. Aku menatap lama ke langit, menatap bintang yang menari lincah dalam diamnya. Indah… Jikapun aku terlambat memahami kesederhanaan ini semoga aku tidak terlambat untuk mengobati hati yang lebam. Sayang, ia kejatuhan banyak beban yang belum haknya. Lebamnya makin menjadi karena keterlambatanku memahami kesederhanaan ini. Memahami, melepaskan dengan ikhlas, menyambut dengan sabar semua ketentuanMu. Adakah bisa semua menjadi lebih baik bagiku?

“Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya kamu berada dalam pengelihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri” (QS At-tur:48)

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sahabatku Guruku

Slow Response

Cintaku Padamu

Bicaralah yang baik

Melihatmu