Selesaikan Pikiran Terdekatmu
Shera adalah seorang anak gadis.
Setidaknya bagi ayah dan bundanya. Ia adalah seorang perempuan yang berada pada
tahapan usia dewasa awal. Ia baru saja memulai kehidupan yang sesungguhnya,
belajar meninggalkan kelabilan, belajar konsisten dengan pilihan-pilihan yang
ia buat untuk dirinya, belajar untuk memikirkan segalanya sebelum memutuskan
sesuatu, belajar berkompetisi dengan banyak pihak, belajar meninggalkan pikiran
pesimis dan melangkah maju. Shera, dia hanyalah seorang gadis biasa, orang
dewasa yang baru saja masuk fase dewasa tanpa prestasi wah. Ia memiliki banyak
kenalan, banyak teman, dan beberapa sahabat setia. Ia memiliki guru di setiap
sudut tempat yang ia kunjungi dan ia hobi tersenyum, bercerita, dan
mendengarkan cerita.
Hari ini adalah hari senin, hari
yang menjadi pembuka untuk hari-hari yang lain dalam seminggu. Hari kesukaan
Shera dan hari di mana ia terus dan terus bersemangat untuk menyusun hidupnya.
Belajar untuk dewasa memang bukan hal yang mudah, setidaknya bagi Shera.
Beruntung ia memiliki seorang sahabat yang senantiasa saling tolong menolong
dalam kebaikan dan senantiasa menasehatinya dalam kebaikan, ialah Aisyah.
“Ay, kenapa gw sering mikirin hal
yang terlalu jauh ya? Padahal hal-hal terdekat banyak banget yang harus lebih
gw pikirin dan bisa gw kerjain”
“Hmm,, mungkin karena lu kurang
fokus sama hal terdekat yang harus lebih dipikirin dan dikerjain itu atau lu
bosen atau menganggap itu ga lebih penting dari hal-hal yang terlalu jauh itu.
Ahhh Ra, kan blum pasti juga hal yang terlalu jauh itu terlaksana atau
kejadian.”
“Nah iya Ay, gw juga sadar
makanya setiap mulai kepikiran hal yang terlalu jauh itu, gw langsung acak-acak
tuh pikiran biar ilang sambil ngomong ke hati sendiri ‘eh cuy gada gunanya
dipikirin sekarang. Kelarin dulu tuh persiapan seminar lu!’ gitu Ay”
“Eh iya ya, bulan depan kan lu
seminar. Ya emang sebenernya ga gampang sih ngasih prioritas ke sesuatu hal
kalo hati kita sendiri belum mau memprioritaskan. Percuma kalo ‘si pikiran’ aja
yang berusaha fokus tapi ga didukung hati. Akhirnya pikiran lu bekerja terlalu
keras dan jadinya cape tanpa ngelakuin apapun.”
“Eh, iya ya Ay bener loh kadang
gw ngerasa cape karena berusaha fokus sama satu hal padahal belum banyak actionnya. Jadi itu karena ‘si hati’
belum ikut serta ya??”
Aisyah sebenarnya memiliki problem
yang sama dengan sahabatnya. Ia tau persis harus menyelesaikan pikiran
terdekatnya yang bisa ia kerjakan lebih dulu. Tapi untuk dapat melakukannya ia
harus bisa ‘menyeret’ hati untuk selaras dengan pikirannya. Ketika hati belum
selaras, jangankan untuk mengerjakan urusan terdekatnya, memikirkan saja terasa
sangat berat baginya. Hanya saja ia tau betul pikiran-pikiran yang terlalu jauh
itu, yang berputar-putar lebih banyak dikepalanya, berada dalam kontrol penuh
hatinya dan lebih ringan untuk muncul dipikirannya meski tau tak ada action apapun yang bisa ia lakukan.
“Ra, sebenernya sih kondisi gw
juga lagi sama kayak lu. Gw lebih gampang mikirin soal rumah, orang tua gw,
adik-adik kecil gw di kampung, main bareng mereka, cerita banyak hal, bantu ibu
bikin kue dan jualan di kampung. Dan semua lebih mudah hadir dipikiran gw
karena hati gw terus-terusan merindu ke sana padahal gw tau gw ga bisa
ngewujudin itu sekarang. Jangankan ngewujudin bayangan-bayangan yang mungkin
baru bisa terlaksana tahun depan, buat nelpon orang tua gw aja gw blum mampu
minggu ini. Beasiswa gw belum turun dan duit gw tinggal buat makan.”
“Yaelah Ay, makan mah gampang
kali bukan ngomong dari kemaren, nginep aja di rumah gw. Beliin aja duit lu
pulsa buat nelpon. Iya sih Ay lu udah dua tahun ga pulang, gimana ga merindu…………………………..
bentar? Merindu? Jadi sebabnya merindu??”
“iyalah, kalo hati kita udah
punya power kuat banget buat ngatur apa yang paling mudah muncul dipikiran
kita, itu artinya dia punya bahan bakar utama Ra, rindu”
“Hahahah,….. (hening sejenak) masa begitu (bergumam dalam
hati)?? Hmm….”
Hari senin dan obrolan hari itu
berlalu dengan berbagai macam pikiran, baik untuk Shera maupun untuk Aisyah.
Masing-masing mereka sibuk dengan pikirannya yang jauh dan yang dekat sambil
terus mengendalikan hati untuk selaras dengan pikiran. Cuaca siang itu terik
dan menyilaukan, bersamaan dengan itu tiap-tiap insan sedang berusaha
menyelesaikan segala persoalan hidupnya. Begitupun Shera dan Aisyah.
Komentar