Belajar bersungguh-sungguh untuk dewasa dan belajar artinya memperjuangkan


Halo teman-temanku yang Allah sayangi, Assalamualaikum. Semoga hari ini adalah hari yang jauh lebih baik dari hari kemarin dan keimanan kita meningkat setiap harinya. Mungkin ini adalah tulisan pertama di bulan Februari. Semoga isi tulisan kali ini bisa lebih bermakna dan penuh dengan hikmah.

Sekarang aku sudah resmi jadi mahasiswa tingkat akhir, tahun ini harus dan harus jadi tahun kelulusanku. Rasanya nano-nano banget kalo inget skripsi yang masih on going, proposal magang yang belum rampung, dan adik-adikku yang sudah beranjak dewasa. Rasanya baru kemarin lulus SNMPTN tulis dan diterima sebagai mahasiswa baru IPB jurusan Ilmu Keluarga dan Konsumen, eh tau-tau tahun ini udah akan masuk usia 21 tahun.


Ga lama tapi sering dan memang cukup sering mengoreksi diri sambil bertanya dalam hati “Gw udah dewasa belum ya? Hmm udah cukup kayaknya, ah tapi ga juga kadang masih ngebocah juga kelakuan, kalo lagi nasehatin orang aja kayaknya dewasa, tapi dewasa kok buktinya…..” dan begitulah sekilas perdebatan diri tentang kedewasaan. Tapi dalam tulisan ini aku sudah berpikir cukup panjang dan dalam tentang maknanya dewasa.

Ini mungkin baru hari ke-13 di bulan februari tahun 2016 tapi sejak memasuki semester 7 kemarin di bulan September 2015 banyak yang berubah dari caraku berpikir dan melihat kehidupan, nah itu tepatnya setelah selesai Kuliah Kerja Nyata di Jepara di tambah dengan banyak kejadian yang bikin hati naik turun sepanjang September – Februari. Dewasa itu bukan soal cara bicara kamu yang tadinya bawel jadi kalem banget, dewasa itu bukan soal topik pembicaraan kamu yang tadinya ngomongin kuliah aja trus jadi ngomongin kerjaan dan nikah. Tapi dewasa itu adalah tau caranya bersikap sebagai orang yang berpengalaman, tau topik-topik pembicaraan apa aja yang pantas dan ga pantas di bahas, mampu untuk mengendalikan emosi yang positif maupun negatif, respek dengan lingkungan di sekitarnya, tapi semua itu ga membuat dia jadi orang lain. Semua kepantasan yang tercipta dari dalam diri itu membuat dia semakin jadi dirinya sendiri dan semua adalah hasil usaha keras dalam memperbaiki diri. So, ga perlu dikasih tambahan “Dewasa tuh artinya ga egois, ga alay, ga pecicilan, ga ceplas ceplos”, heeeyy itu udah terangkum dalam kalimat -mampu untuk mengendalikan emosi yang positif maupun negatif – why? Karena kalo emosi positif itu meluap-luap tanpa kendali orangnya bakalan alay bahkan pecicilan, kalo emosi negatifnya berlimpah ruah maka dia akan menampakkan keegoisan diri dan mulut yang tak terjaga.

Bicara itu memang mudah, meskipun berhasil berkata-kata begini berdasarkan pengalaman pribadi dan belajar banyak dari orang-orang terdekat, nyatanya dewasa itu memang butuh usaha keras. Seseorang yang punya sifat dewasa bukan ditumbuhkan dengan simsalabim tapi karena mereka mau belajar dan terus mengoreksi diri. Terutama untuk diriku sendiri. Semoga saja Lana secara pribadi bisa lebih handal dalam mengontrol diri baik mulut maupun perilaku, setelah menghadapi banyak hal selama 5 bulan 13 hari ini semoga Allah selalu melindungi dari perkara yang salah dan buruk.

Hai teman-teman,, semoga selalu dalam kebaikan ya bagi kita semua. Ingat,, untuk dewasa itu harus dibentuk dengan kesungguhan yang keras dan ini nih yang harusnya ga perlu disebut lagi yaitu, melibatkan Allah secara total dalam proses kebaikan yang kita jalani yang salah satunya berusaha keras untuk dewasa.

Wassalamualaikum,, episode selanjutnya adalah Belajar artinya memperjuangkan J

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Slow Response

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!