Memahami dan Belajar Memahami

Wassalamualaikum Ramadhan, semoga masih Allah SWT beri kesempatan bagi kita untuk bertemu kembali dengan keindahanmu. Kini bulan Syawal sudah tiba dan hari ini tanggal 2 Syawal. Banyak hal – hal menarik ala orang dewasa yang sedang berusaha saya pelajari, pahami, dan maknai. Bukan sekedar cara mengahadapi masalahnya, tapi juga bagaimana mengkreasikan sudut pandang masalah, atau malah mengubah persepsi masalah menjadi ibadah yang bernilai pahala di sisiNya.

Ketika bersilaturahim ke sanak saudara, terasa sekali bahwa sudah bertahun lamanya hidup, kini bocah – bocah itu sudah tak lagi kecil. Ada yang sudah menikah, punya anak, ada yang baru mendapat pekerjaan, baru menikah, persiapan skripsi, naik tingkat 2 kuliah, dan tentu salah satunya adalah saya yang naik tingkat 3 kuliah. Aah,, ternyata kita sudah tergantikan oleh bocah-bocah kecil baru yang semoga saja jauh lebih baik dari kami-kami para tante dan om nya.

Berat ringannya masalah dalam kehidupan yang sudah dijalani sekian lama ini, agaknya memberikan pelajaran dan kesimpulan tentang “ini” dan “itu”. Namun sebagai mahasiswa ilmu keluarga dan konsumen, maka bukan lagi sekedar masalah anak kuliahan yang menjadi bahan observasi saya, akan tetapi permasalahan keluarga, baik dari tingkat suami istri atau orgtua dan anak yang kini jadi bahan observasinya. 

Berhubung banyak sepupu yang sudah menikah -dari yang sudah 5 thn sampai yang baru beberapa bulan pernikaham- maka ini jadi bahan perhatian juga selama ritual silaturahim berlangsung.  Masalah antara ummi dan abi juga jadi bahan perhatian dan pertanyaan. Masalah antara sepupu saya dan ibunya juga menjadi perhatian saya. Semua permasalahan yang saya temukan berpusat pada pola komunikasi, frekuensi komunikasi, dan sudut pandang yang bervariasi.

Karena hasil observasi selama 2-3 hari inilah saya banyak menghubungkan sebab akibat dari masalah, latar belakang, dan karena mengobservasi hal-hal ini, saya jadi banyak membayangkan dan berdoa agar di tahap selanjutnya kehidupan, saya dapat lebih terampil menghadapi masalah, sebab saya sudah lebih dulu mempelajari masalahnya. –bahkan sampai berdoa agar di berikan keluarga yang berakhlak mulia nantinya– *eaa.

 Belajar memahami masalah orang lain, membuat kita belajar untuk mengambil tindakan yang tepat ketika mendapat permasalahan yang sama nantinya.

To be continue….

Komentar

Anonim mengatakan…
Mantap!

Aamiin.. :D
Anonim mengatakan…
Mantap! Semangat!
Abu Fauzan mengatakan…
aku ingin...
aku, aku,

menjadi seorang yang bisa memahami dan terus belajar untuk memahami. ^_^
Roxalana Fikren Taufik mengatakan…
Jazakallah khairan atas komen semuanya :)

Postingan populer dari blog ini

Slow Response

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!