Ini tentang Pilpres dan Mahasiswa
Yap menjelang pemilihan presiden besok ada hal-hal yang ingin saya sampaikan, yang serigkali ingin sya tulis di FB tapi merasa tidak cukup pantas.
Banyak persaingan sengit hingga yang keji yang terjadi selama kurang lebih sebulan menjelang pilpres. Banyak cara yang dilakukan TimSes, Simpatisan, bahkan Mahasiswa untuk mendukung pilihannya. ada yang menggunakan cara cerdas, ada pula yang cara tidak baik. Tidak baik cara penyebarannya kah, isi tulisannya kah, issunya kah, apapun pokoknya tidak baik, cendrung ke arah fitnah dan judgment.
Dalam tulisan ini saya berusaha bersikap netral untuk tidak memihak yang manapun, karena buat saya kedua Pendukung sama-sama ada tidak baiknya. Jadi saya lebih tidak suka pada pendukung yang arogannya dari pada ilfil pada salah satunya. memang dalam hal pemilihan yang akan ribut adalah pendukung bukan pemainnya yang dalam hal ini adalah si capres cawapres.
Saya berharap para pendukung tidak bertindak layaknya pendukung bola di Indonesia, yang anarkis ketika kalah atau malah sombong membabi buta karena menang.
Lebih spesifiknya lagi saya akan membahas terkait mahasiswa sebagai pendukung. Mahasiswa juga rakyat biasa yang saya yakin sama seperti media massa. Ketika bersuara di dunia maya tak bisa cukup netral, mereka punya hak untuk mendukung salah satu. Namun ada beberapa hal yang penting yang tidak disadari mahasiswa, yaitu predikat mereka sebagai mahasiswa. Ini mengharuskan mereka bicara atau mengajukan opini dengan cerdas yang menunjukan identitas mahasiswa mereka. Apa bedanya mahasiswa dan preman atau pendukung arogan bila tata cara berbahasa atau bertindak mereka sama buruknya atau lebih buruk?
Saya senang dengan orang-orang kritis yang bukan cuma ikut-ikutan kritis. Kritis yang bukan hanya sekedar spekulasi kosong. Kritis yang bukan karena euforia tapi karena memang peduli dengan kondisi. Saya senang berdiskusi dengan orang-orang kritis yang akhirnya berakhir pada bertambahnya informasi dan ilmu. Tapi kaitanya dengan pilpres adalah, di mana pendukung fanatik baik dia mahasiswa atau bukan, cenderung sulit untuk di ajak diskusi. Kritis yang mereka buat bukan dengan tujuan mendapat informasi atau ilmu, tapi lebih kepada pemenangan atas pendapat dan penilaian mereka. Saya katakan ini salah. Apalagi bila yang bersangkutan mahasiswa.
Saya sebagai mahasiswa ingin sedikit berpesan pada sesama mahasiswa, bersikap netral ketika menuliskan hal-hal terkait pilpres barangkali sulit bagi mahasiswa. Tapi berkatalah yang baik atau diam sebagai mana pesan Rasul kita. Tidak perlu share yang jelek tentang calon yang bukan pilihan kita. Klo memang mendukung ya share saja yg baik tentang pilihan kita. Bila ingin meyakinkan orang lain bahwa pilihan kita layak terpilih tak perlu menjelek-kan yang lain. Kalo dalihnya adalah membeberkan fakta dan tidak dengan niat menjatuhkan maka pakailah kata-kata yang sopan dan tidak menyudutkan.
Mudah-mudahan Pilpres esok hari berjalan lancar dan tanpa kecurangan apapun. Biarkan orang-orang itu saling menjatuhkan bila di nasehati tak bisa. Cukup kita berdoa agar Allah berikan kita pemimpin yang mengarahkan kita pada kebaikan dan syari'at yg lebih tegak.
Walhamdulillah.....
Komentar