Apakah Aku Lupa?
Terkadang yang kita mau itu hanya keberhasilannya, yang ada di akhir. Kita
membenci awalan yang penuh liku, peluh, dan luka. Lupa bahwa kesembuhan datang
karena ada kesakitan. Kita tak tahu
kenapa begini dan begitu, mencari tahu kenapa lalu akhirnnya mendapatkan
jawaban atau tak mendapatkan jawaban lagi dan lagi. Lupa bahwa bisa jadi kita
memang tak harus tahu, tak perlu tahu, dan mungkin berbahaya jika tahu. Ahhhh
manusia
Memang manusia tempatnya lupa, dan memang kita diciptakan dengan keadaan lemah. DAN lagi-lagi, kita lupa itu.
Rasa sombong yang memakan rasa malu dan takut jadi biang segala kejahatan
dan kebusukan hati. Kadang kita sadar kita sombong,kadang tidak sadar, atau
pura-pura tidak sadar. Manusia itu bisa gila hormat, bisa “hanya” ingin
dihormati, dan memang harusnya kita saling menghormati ingin atau tidak kita
dihormati.
Beruntunglah masing-masing kita yang mempunyai sahabat untuk saling
menguatkan, mengingatkan, menedengarkan, menasehati satu sama lain. Bukan untuk
menunjukan bahwa kita yang paling bijak, bukan untuk menunjukan bahwa kita yang
dituakan, bukan untuk menunjukan bahwa kita yang paling berilmu, tapi untuk
menunjukan bahwa kita punya rasa sayang untuk sahabat kita, punya rasa peduli,
punya rasa saling melindungi satu sama lain.
Tentang lupa,,
satu, asal kita tak pernah lupa bahwa kita punya sahabat yang melakukan banyak
hal dengan kita, tertawa, menangis, marah, atau takut. Kita, belajar satu sama
lain, untuk menghargai dan melindungi satu sama lain dari rasa sombong,
sehingga bukan hanya akhir indah yang kita ingin, tapi juga perjuangan untuk mendapatkannya.

Komentar