Dia bilang "Terima kasih"
Dia biasanya menangis karena hal
hal kecil yang orang anggap sepele, dia juga tertawa dengan hal-hal sederhana
yang menurut orang lain biasa, dia juga bisa marah karena hal-hal sederhana
yang tak teraba orang lain. Itulah dia. Dia biasa dibilang aneh oleh mereka,
mereka sering bingung dengan sikap dan pikirannya, kadang dia tak berhasil
membuat mereka paham dan kadang dia berhasil. Segelintir orang memang yang
mengerti dan sealur dengannya, jadi kawan itulah dia.
Mereka bilang bahagianya sederhana,
dia bilang bahagia itu harus sederhana. Mengapa harus dengan yang sulit baru
kita bahagia? Mereka bilang, mereka tak mengerti maunya dan ada apa dengannya, dia
bilang, “lihatlah dari sudut pandangku dan kau akan mengerti”. Jika dia belum
menjadi bagian darimu, kau tak akan mengerti, begitupun dia. Jika kau belum
menjadi bagian darinya, kau tak akan mengerti tapi dia pastikan dia sudah
mengerti.
Dia adalah sedikit dari orang-orang
yang menangis ketika acara-acara seminar itu mulai memasuki sesi
tangis-menangis. Dia satu-satunya orang yang menangis ketika seseorang
mengatakan tidak padanya tapi iya pada yang lain. Mungkin orang lain berpikr, “bukankah
harusnya kau kesal”. Dia tidak kesal, tapi dia bersedih sebab dia berpikir “sehina
apa aku sehingga iya tak mau bila aku dan mau bila yang lain?”. Orang-orang
mudah melting ketika ada adegan so
sweet di film atau diperlakukan spesial oleh orang lain, tapi dia, tidak. Dia
merasa melting dengan hal-hal
sederhana yang kau lakukan padanya, sederhana.
Seperti ketika kau menawari dia
makanan, minuman, bantuan. Atau ketika kau menjenguknya ketika sakit,
mengatakan bahwa “kita adalah teman”, memberikan dia semangat ketika dia lelah.
Bukan, bukan gembira. Lebih dari itu ketika kalian melakukan hal-hal kecil padanya.
Yang kecil memang tak selalu kecil
di mata orang-orang tertentu, yang sederhana memang tak selalu sederhana di
hati orang-orang tertentu. Karena kau bisa tersakiti karena hal kecil, karena
kau bisa tertawa karena hal-hal yang sederhana, karena kau bisa marah karena
hal-hal kecil. Hatiku, hatimu, hatinya tak sama. Kepalaku, kepalamu, kepalanya
tak sama. Dengan kepala yang berbeda kita punya pikiran yang lebih berbeda
lagi, sehingga pendapat kita sering pula berbeda. Katamu itu sepele, katanya
itu penting. Katamu itu kecil, katanya itu besar.
Sejauh apapun perbedaan yang kita
punya, kita akan selalu satu tubuh atas nama Islam. Kita memang jauh berbeda,
tapi insyaAllah dia selalu ada ketika kau butuh. Kamu? Bukan. Kita? Ya dia berterimakasih karena Allah
mempertemukannya dengan kalian atas nama dakwah, meskipun nanti akan berpisah
lagi, semoga itu kembali atas nama dakwah.
Komentar