Sekilas
HEBAT
Banyak orang yang jadi hebat karena dia terlahir sebagai orang hebat, tapi ada juga orang yang terlahir biasa saja dan dia yang membangun dirinya hebat dengan perjuangan. Orang-orang yang terlahir hebat cenderung diawali hidup dengan orang-orang hebat, dikelilingi dengan orang-orang hebat dan bergaul dengan orang-orang hebat, tapi orang yang membangun dirinya menjadi orang hebat sering diawali dengan berkumpul bersama orang-orang biasa, bermasalah, lemah, dan tak terarah.
Orang yang terlahir hebat dan yang membangun diri menjadi orang hebat mempunyai kualitas yang beda walau keduanya sama-sama kategori hebat. Jika kita lihat, mana yang lebih kuat? Orang yang kaya sejak lahir atau orang yang menjadi kaya setelah ia berjuang dari kemiskinan? Ya, kita tau mana jawabannya kan? Seperti itu juga perbedaan orang yang sudah hebat dengan yang jadi hebat.
Seringkali saya lihat orang-orang yang “menjadi” hebat adalah orang-orang yang bijak, pemaaf, penyabar, dan pemikir. Ayah saya pernah bilang bahwa seseorang itu tidak harus pintar, yang dia butuhkan adalah giat. Saya sangat setuju dengan ucapannya, seseorang hanya butuh giat untuk menghadapi masalah dan membangun kesuksesan.
Seperti menghadapi mesin mobil yang rusak kita tidak harus membeli onderdil yang baru untuk membuatnya kembali benar, kita hanya butuh memperbaikinya dan memperbaiki itu butuh giat. Giat sabar memperbaiki, giat ikhlaskan hati karena rusak, giat semangat untuk kalahkan lelahnya. Dan seperti itulah orang yang menjadi hebat, dia giat dalam banyak hal untuk menghadapi hidup sehingga orang-orang sekitarnya pantas menggelarkan hebat pada dirinya. Orang yang terlahir hebat biasa hidup dengan keberhasilan dan rasa percaya diri tinggi karena kemampuannya, tapi orang yang menjadi hebat tau rasanya terinjak, tau rasanya hina dengan tinggal di lingkungan hina, tau rasanya dicaci, dan dia tau rasanya terisolir. Sehingga ketika dia menjadi hebat tak ada hal apapun lagi yang membuatnya kembali tersungkur, karena dalam perjalanannya menjadi hebat dia tau cara mengatasi “ketersungkuran”.
KOMENTAR
TAK DI UNDANG
Kadang curhat itu ga butuh masukan, ga butuh nasehat, dan ga
butuh komentar. Cuma butuh didenger.
Banyak yang ga paham sama hal kayak gini, kadang-kadang
komentar yang ga diminta malah bikin yang curhat jadi males ngomong lagi sama
yang jadi tempat curhat. Ada juga yang lebih ngeselin, kalo yang jadi tempat
curhat ngasih masukan/nasehat tentang perkara yang dialami si yang curhat, padahal
si yang nasehatin ga pernah dapet perkara gitu dan ga pernah juga punya posisi
yang dialami yang curhat.
Saling memahami satu
sama lain dalam persaudaraan itu sesuatu yang sangat penting dibanding aspek
lain, kalo hanya salah satu yang memahami akan mendzolimi yang lain. Sekalipun
saudaramu tak pernah meminta untuk dimengerti tapi mengertilah satu sama lain,
kenyamanan adalah nomor satu dalam banyak hal. Setuju?
Komentar