Ringkih

Jika bukan karena aku ingat bahwa Allah sedang menguji, mungkin tak akan sungkan aku berteriak dan memporakporandakan sekitar.

Aku sadar sesadar ketika aku mengeluh sepanjang hari pada hati yang sudah lelah dengan teriknya dunia, bahwa aku mulai merangkak mundur padaNya. Aku berteriak pada keringat yang menetes pelan dari telunjuk, "Wahai Rabb semesta alam, di mana Engkau ya Rabb??? tolong aku!!!" ya aku akan berteriak begitu sepanjang hari kalau saja aku tak teringat seorang sahabat yang berkata "Kalo kita ngerasa gitu anggap kita lagi UAS, kalo kita nanya ke guru tentang soal, kita bakal didiemin sama guru. Kan lagi UAS, masa jawabannya dikasih tau. Begitu juga Allah saat ngasih ujian. Ia tersenyum sambil ngediemin kita. Bales senyuman Allah dengan senyuman ya!". Ahhh kawan andai kau tak pernah berkata begitu, mungkin semua usai. 

Rabbi, aku tahu Kau begitu dekat dan kini aku yakin dan bertambah yakin lalu semakin yakin. KAU DEKAT. akulah yang bersalah, membiarkan ragu dan putus asa berteman denganku. Kau tak akan mungkin mendzalimi hamabaMu, tentu ada suatu maksud ketika kau curahkan cobaan padaNya kan? Ya

Malu rasanya menatap cermin, karena di situ terpantul sosok kumuh yang memelas pada kenyataan, karena di situ terpantul sosok lemah yang penuh dengan senyuman menyedihkan. Namun kuberanikan diri untuk menatap cermin itu dengan tegap, karena ku sadar masih ada kekuatan dan cahaya pada matanya. Ya, kemauan. Aku masih punya itu.

Ini adalah dunia nyata, bukan area pengambilan film yang bisa diulang scenenya tiap ada kesalahan. NYATA.

Biar saja lelehan hangat itu mengalir sejenak pada pipimu, toh itu hanya sebentar. biarkan sedih yang sesaat jika memang ini waktunya untuk bersedih, toh hidup bukan hanya tertawa, senyum dan bahagia. Kau berhak tertawa jika memang pantas kau tertawa, kau berhak menangis jika pantas kau menangis. Tapi diamlah jika tak keduanya pantas untukmu saat ini, dan................. Berpikirlah, apa yang salah padamu. 

Kemarin tak akan berubah dan tak akan tertambal rusaknya. Besok tak akan jadi apapun jika memang kelakuanmu sama dengan kemarin. Sekarang, ubahlah sekarang, jangan urungkan, jangan. Waktu terus berjalan, jangan sampai kau menyesal dan menghukum dirimu atas kelalaian. Tegaplah dan yakinlah, Allah bersamamu meski kau tak merasa, meski Dia tak teraba, meski kau jadi tertatih.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Slow Response

Sahabatku Guruku

Penulis

Cintaku Padamu

Haura... mentoring yuk!!