Merenung
Belajar itu adalah memahami, bukan menghapal yang lantas hilang, belajar kehidupan itu adalah menerima realita yang ada, belajar mengoptimalkan waktu, belajar menyeimbangkan porsi tiap aspek yang ada. Orang bijak bilang, hidup itu adalah kita sebagai Komandannya, kita yang mengatur, kita yang melangkah, kita yang memilih, dan KITA. Tidak ada
satupun yang berhak mengatur ataupun memaksa jalannya hidup kita begini dan begitu selain Allah dan kita sendiri. Tiada satupun tak terkecuali orangtua, tak terkecuali sahabat, tak terkecuali guru. Mereka hanya mempunyai hak sampai pada memberi pendapat, saran, masukan, dan kritik. Sama sekali tak ada Hak untuk mereka mengatur jalannya hidup kita. Kita hanyalah titipan bagi orangtua kita, kita hanyalah kiriman untuk sahabat kita, dan kita hanyalah amanah untuk para guru-guru kita.
Sahabat, begitu mudahnya bagi Allah untuk membuka aib kita, semudah ia menciptakan Hawa untuk Adam. Kita tak memiliki daya dan upaya apapun kecuali karenaNya. Ya ukhti, ya akhi. Mungkin kita tlah jauh dariNya, hingga ia tegur kita dengan ujian, dengan cobaan, dengan musibah. Begitu sayangNya Ia pada kita, sehingga enggan kita jauh dariNya.... Cobalah kita berkaca, cobalah kita berpikir, sudahkah syukur kita aplikasikan dengan ikhtiar sebagai bukti padaNya? Bahkan mencintai seseorangpun harus dengan bukti, bukan dengan ucapan yang penuh dengan dusta di hati. Allah butuh bukti, sekalipun Allah tau apa yang ada di hati kita. Sekalipun Ia MAHA TAU.
Kawan, sadarilah, kecewa itu Menyakitkan, dan tak ada hal yang lebih memukul diri kita sendiri selain membuat orang lain kecewa, yah itupun jika kita adalah orang yang tahu diri. Kecewa hanya akan lenyap oleh waktu yang lama, begitu lama. akan hilang bila kau lupa bagaimana rasanya kecewa. Jangan biarkan pilihan dan cara yang salah menuntun kita pada jurang kekecewaan. Setitik nila mampu membuat susu sebelangga menjadi tiada arti. TIADA. akankah kita mampu membayar kekecewaan yang kita buat? berpikirlah sekarang sebelum penyesalan menjemput. Akhi wa Ukhti fillah. Seimbangkanlah Kehidupan. Jangan biarkan kita berorentasi pada akhirat dengan melupakan dunia, atau justru berorentasi pada dunia hingga tak peduli akhirat. Seimbangkanlah, bahkan Allah tidak menyukai ibadah yang berlebihan. ALLAH adalah zat yang Maha Anggun, Maha Lembut, Maha Pemurah. Maka maksimalkanlah Dunia dan Akhirat dengan takaran yang seimbang. Semata-mata menjauh dari kecewa yang telah menunggu.
Semoga Allah selalu menyertai kita, dan terus melindungi kita. Innallaha ma'ana

Komentar