Kalian adalah Kami
Setelah semua yang terjadi hingga detik ini, bagiku itu semua melebihi harapanku dan bayanganku. Kalau saja Dia tidak menyasarkanku pada Kalian dan Mereka mungkin aku tak akan bisa menjadi seperti ini. Sekedar bersyukur aku rasa kurang untuk membalas semua nikmatNya. Semua bukan hanya karena kalian tapi juga karena mereka, dan ini semua karena Kita. Aku terus mengikuti alur yang berjalan walaupun seringkali melenceng dari jalan cerita atau justru aku yang sengaja melawan alur. Aku sudah melihat mereka yang berpikir dalam kebingungan, sama seperti ketika aku melihat kalian yang kebingungan lalu mencari-cari pegangan pada tiang yang goyah, pada cermin yang retak.
Ini bukan ceritaku ini juga bukan curhatku. Bagiku ini adalah lembaran cerita Kita. Yang selalu aku pahami adalah kita itu satu, satu dalam langkah dan satu dalam rasa. Bila kalian merasa tertampar itu karena kami juga tertampar. Kami tersungkur itu karena kalian tersungkur. Kalian bersemangat karena kami bersemangat. Kami bersuka cita karena kaupun begitu. Kami dan Kalian dalam konteks yang dalam. Ini adalah Rasa dalam satu gerakan, ini adalah Cerita dalam satu nafas, ini adalah skenarioNya, ini adalah jalanNya, dan ini adalah Takdir Kita. Menghirup nafas yang mahal ini dirasa kurang pantas bagi minoritas kita yang tak mau mengusahakan kehidupnya agar lebih baik.
Kita, Aku. Kini sudah berada di ujung pintu, para pembimbing tak lagi menuntun kita dengan intensif, fraksi kehidupan yang berjalan tiap detiknya melenakan kita dalam setiap kenikmatan dalam lembaran cerita. Kita akan berjalan sendiri nantinya bukan? Panggung sandiwara sudah tak sabar untuk kita jamah, kenapa harus menunggu kalau bisa memulai? Kenapa harus terucapkan di belakang kalau bisa terucapkan di depan? Pikir, pikir, pikir. Seperti permainan kita "berpikir sebelum bicara" pikirkanlah dampak dari tiap langkah yang berjalan detik demi detik dan yang membangun jarak perincinya. Rasakanlah, rasakanlah lalu pikirkan segala kemungkinan dari tiap ucapan, dari tiap keluhan, dari tiap nasehat, dari tiap protes, dari tiap sindiran, dari tiap pujian, dari tiap celaan, dari tiap masukan, dan dari tiap-tiap maksud.Waktunya tak akan lama lagi. Allah adalah Hakim yang paling adil, dia sudah menyiapkan waktu yang sama untuk tiap makhluknya di bumi, tanpa ada yang di kurangi ataupun di lebihkan. Apakah kita akan menyia-nyiakan keadilanNya? Kini kami berada di penghujung jalan, bantulah kami dengan kepala dingin, lihat kami dari sisi-sisi terbaik kami, semangati kami dengan hati-hati tertulus yang kalian punya, kami selalu punya alasan an memang tak semua alasan dapat dijabarkan dengan logis. Kembangkan senyum kalian, seperti senyumku yang menghadap pada pintu yang siap melepasku dari dunia "sekolah", senyum kalian dan keikhlasan kalian pada kami adalah lebih dari cukup sebagai obat penenang jiwa obat penenang pikiran. namun obat dapat menjadi racun, sehingga....... pikirkanlah hal apa yang membuat obat menjadi racun? Kami adalah Kalian, maka pikirkanlah mengapa.... Bantu kami, Sang Petinggi.

Komentar