Estimasi Lembaran Usang
Sang Pemimpi_Now Playing 08/03/11 Rabu@Kamar Lana .
Ditemani dengan hujan yang mendera lingkungan rumahku dengan manis dan lembut. Mengingatkanku pada semua kenangan, kejadian, dan momen-momen terlupakan yang menyimpan banyak pelajaran. Hujan seringkali mengingatkan kita pada kejadian bersejarah yang kadang terlupakan untuk kembali kita ulas. Hujan kali ini berbeda dari biasanya, hujan kali ini datang bersama dengan langit kekuningan dan angin kencang, tetes-tetes air yang jatuh ke bumi tak dalam bentuk butian melainkan dalam bentuk halus tirus, ku lihat hujan di luar sana dari kaca jendala kamarku yang penuh debu karena jarang kubersihkan, terlihat deraan hujan yang tajam, menyedihkan, namun lembut.
So Sick Neyo_Now Playing. Masih di kasurku yang mampu membius kesadaran.
Padahal besok masih UKK tapi kenapa otakku me-mainset bahwa semua telah selesai? Oh ya semua pelajaran menghitung telah lewat. Akan belajar apa aku hari ini? Bahasa Inggris? Ya mungkin. Salah satu HAURA akan melakukan perjalanan dan akan menetap di negeri orang untuk waktu yang lama. Hei sahabat, mengapa cepat sekali? Waktu tak pernah mau menunggu yah? Aku lupa itu. Waktu benar-benar tak mau menunggu sejauh apapun kau tertinggal, dan seseok apapun kau mengejarnya ia tak akan merasa iba. Hingga ketika kau sudah jauh, jauh tertinggal, kau baru tersadar bahwa waktu sudah memaksamu untuk masuk ke masa yang berbeda, kurang dari satu tahun lagi, kurang. Kita akan menjadi mahasiswa (insya Allah).
Mengejar Matahari_Now Playing. Masih mengetik ditemani dengan kegelapan hari yang semakin membungkam.
Ku nyalakan lampu kamar seraya menutup gorden. Halilintar, petir atau apalah namanya itu, terus berdendang diantara rintikan hujan yang mulai menjinak. Masih tetap tak sadarkah kau? Atau aku? Waktu telah menyeret ku, oh bukan menyeret kita, ke masa yang tak akan lagi sama. Keadaan yang tak lagi kondusif. (pending maghrib 18.52) lingkungan yang tak akan lagi selalu bersahabat, akan segera kita jemput. Jutaan wajah akan segera kita tatap. Dunia luar, benar-benar dunia luar, tak sabar menunggu kedatangan kita, tak sabar menunggu kita menjamahnya. Hari ini mungkin kita masih mencari keadaan kondusif untuk sekedar mencari tahu pelajaran hidup, atau yang lainnya. Tapi nanti, kita tak akan lagi mencari keadaan kondusif, atau tempat kondusif atau lingkungan kondusif. Kitalah yang akan membuat kekondusifan dalam diri kita. Kita bukan mereka yang tak mau tumbuh, kita bukan mereka yang hanya ingin ke instanan. Mungkin banyak tetesan air mata yang mengalir selama jatuh bangun organisasi ini, tapi kita sering kali tenggelam dalam derai tawa yang tak kunjung surut airnya. Memang banyak kekecewaan yang kita telan bulat-bulat tapi tak jarang pula kita meneguk kenikmatan luar biasa dariNya. Lantas kapan kita mau benar-benar bersyukur?
Stand up for Love_Now Playing. Bersama dengan cuaca yang kembali tenang di hanyut malam yang lembab.
Aku memang datang dari masa lalu yang kurang baik, tapi sekarang aku berada di antara kalian para pemenang sejati. Aku memang datang dengan keadaan lusuh tanpa bekal yang cukup untuk menghadapNya, tapi sekarang aku banyak mengunyah bekal untuk hari depan. Aku memang tak terlahir sebagai pemimpin dan pemenang sejati, tapi sekarang aku sedang membangung jiwa pemenang dan pemimpin dengan mimpiku yang terus menumpuk karena perjuangan ini. Dulu aku memang tak pernah ingin terlibat dengan tempat ini, bahkan berniatpun untuk menengok ke dalamnya aku enggan, tapi sekarang aku merasa menjadi satu dengan tempat ini, tempat untuk belajar. Dan aku akan setia dengan tempat ini sepahit apapun derita yang mengunjunginya, seasam apapun wajah-wajah itu padaku.
To be continue------------------------?
Komentar
Dulu saya pernah dinasehati, bahwa Rohis bukan sekedar tempat untuk orang yang sudah baik saja, tapi justru Rohis adalah wadah untuk menjadi baik dan lebih baik.
Tumbuhlah dengan akar yang menghujam ke bumi, tatkala setiap tindakan yang kita lakukan kita selalu mengingat Allah yang mengawasi kita.
Kita harus bisa melega-kan hati kita sendiri, sekalipun orang-orang sekeliling kita mengecewakan kita atau tak mengerti asa kita.