Ketika Keikhlasan dan Kesabaran kita pada Agama DiPertanyakan

DiPertanyakan, bukan selalu oleh sesama Manusia.
Malah Pertanyaan itu terucap dari hati kita sendiri, mungkin di antara kita ada yang
pernah mengalaminya, mungkin malah saya sendiri, tapi saya tidak ingat kapan dan benarkah. Saya hanya berkata "mungkin".
Sering, atau kadang? Yah kita mendengar keikhlasan luarbiasa saudara kita dalam menjalani agama, baik peraturannya, tatacaranya, atau apapun itu yang terdapat di dalamnya. Saya tidak hanya bica
ra mengenai Agama yang saya anut, tapi juga yang lain.
Atau kita pernah/sering, terperangah oleh kesabaran seorang hamba dalam menaati ujian dari kewajiban dalam agamanya. Tidak-kah kita pernah berniat untuk mencontoh hamba itu?, tidak-kah kita pernah berpikir sekuat apa beban rohani yang ia pikul?, tidak-kah kita membayangkan sulitnya menyelesaikan ujian yang hamba itu rasakan?, dan banyak tidak-kah, tidak-kah lain yang kadang kita kagumi sesaat ataupun permanen.
Dikatakan sesaat atau permanen karena, pada kenyataan yang ada memang begitu, kadang ada kekaguman yang muncul hanya pada saat itu saja, atau malah kekaguman yang terus menempel dalam benak kita, seperti kekaguman kita terhadapa Rasul kita tentunya.
Ketika Hati bertanya pada jiwa kita, ikhlas dan sabarkah kita menjalani Agama ini? mengharapkan apa kita dari yang kita jalani? Keridhaan Tuhan (Allah swt) kah? atau hanya merasa ini keterpaksaan belaka? atau malah menjalaninya "hanya" karena ingin masuk Surga, tanpa mengharap Keridhaan Tuhan (Allah) dari apa yang kita kerjakan?
Sudah Luruskah niat kita menjalani segala ketetapan Nya?
Kadang kita diharuskan berpikir keras untuk menjawab ini, sebab kadang Nafsu lebih menguasai akal pikiran kita dibanding Hati kita. Saya yakin sebenarnya "kita" sebagai makhluk yang tak pernah lepas dari kesalahan pernah merasa ingin untuk melakukan hal yang sempurna, meski dalam hakikatnya tak akan. Tapi ketetapan hanya milik Tuhan (Allah) Semseta Alam, yang tak akan ada yang tahu jalan yang akan ia beri pada kita.
Kadang mencari keikhlasan dan kesabaran ini, malah menciptakan sebuah alur rumit yang bisa saja kita tak menemukan titik terangnya, yang mengakibatkan kita malah terseret dalam jalan yang melenceng, atau membuat kita menjadi (maaf) frustasi dengan jangka waktu yang, bisa saja panjang. Tapi pernahkah saat itu terjadi kita berpikir dengan kepala yang benar-benar dingin, bahwa ini memang ketetapan Tuhan kita (buat saya Allah swt), yang bisa saja dengan itulah kita menemukan keikhlasan dan kesabaran sesungguhnya dalam hati dan jiwa kita. Tapi inilah Manusia, yang lebih sering mementingkan Egonya daripada Akal jernihnya, Padahal dalam Kitab yang ia turunkan sudah banyak petunjuk yang mestinya kita tak usah pusing lagi mencari di mana jawabanya, hanya dengan sedikit pemahaman dengan niat yang tulus maka akan kita temukan. Tuhanmu (bagi saya Allah swt) pasti akan menolongmu, karena ia maha pemberi petunjuk.
Malah Pertanyaan itu terucap dari hati kita sendiri, mungkin di antara kita ada yang
pernah mengalaminya, mungkin malah saya sendiri, tapi saya tidak ingat kapan dan benarkah. Saya hanya berkata "mungkin".
Sering, atau kadang? Yah kita mendengar keikhlasan luarbiasa saudara kita dalam menjalani agama, baik peraturannya, tatacaranya, atau apapun itu yang terdapat di dalamnya. Saya tidak hanya bica
ra mengenai Agama yang saya anut, tapi juga yang lain.
Atau kita pernah/sering, terperangah oleh kesabaran seorang hamba dalam menaati ujian dari kewajiban dalam agamanya. Tidak-kah kita pernah berniat untuk mencontoh hamba itu?, tidak-kah kita pernah berpikir sekuat apa beban rohani yang ia pikul?, tidak-kah kita membayangkan sulitnya menyelesaikan ujian yang hamba itu rasakan?, dan banyak tidak-kah, tidak-kah lain yang kadang kita kagumi sesaat ataupun permanen.
Dikatakan sesaat atau permanen karena, pada kenyataan yang ada memang begitu, kadang ada kekaguman yang muncul hanya pada saat itu saja, atau malah kekaguman yang terus menempel dalam benak kita, seperti kekaguman kita terhadapa Rasul kita tentunya.
Ketika Hati bertanya pada jiwa kita, ikhlas dan sabarkah kita menjalani Agama ini? mengharapkan apa kita dari yang kita jalani? Keridhaan Tuhan (Allah swt) kah? atau hanya merasa ini keterpaksaan belaka? atau malah menjalaninya "hanya" karena ingin masuk Surga, tanpa mengharap Keridhaan Tuhan (Allah) dari apa yang kita kerjakan?
Sudah Luruskah niat kita menjalani segala ketetapan Nya?
Kadang kita diharuskan berpikir keras untuk menjawab ini, sebab kadang Nafsu lebih menguasai akal pikiran kita dibanding Hati kita. Saya yakin sebenarnya "kita" sebagai makhluk yang tak pernah lepas dari kesalahan pernah merasa ingin untuk melakukan hal yang sempurna, meski dalam hakikatnya tak akan. Tapi ketetapan hanya milik Tuhan (Allah) Semseta Alam, yang tak akan ada yang tahu jalan yang akan ia beri pada kita.
Kadang mencari keikhlasan dan kesabaran ini, malah menciptakan sebuah alur rumit yang bisa saja kita tak menemukan titik terangnya, yang mengakibatkan kita malah terseret dalam jalan yang melenceng, atau membuat kita menjadi (maaf) frustasi dengan jangka waktu yang, bisa saja panjang. Tapi pernahkah saat itu terjadi kita berpikir dengan kepala yang benar-benar dingin, bahwa ini memang ketetapan Tuhan kita (buat saya Allah swt), yang bisa saja dengan itulah kita menemukan keikhlasan dan kesabaran sesungguhnya dalam hati dan jiwa kita. Tapi inilah Manusia, yang lebih sering mementingkan Egonya daripada Akal jernihnya, Padahal dalam Kitab yang ia turunkan sudah banyak petunjuk yang mestinya kita tak usah pusing lagi mencari di mana jawabanya, hanya dengan sedikit pemahaman dengan niat yang tulus maka akan kita temukan. Tuhanmu (bagi saya Allah swt) pasti akan menolongmu, karena ia maha pemberi petunjuk.
Semoga pemikiran saya ini bukan hanya sekedar omong kosong yang membuat para pembacanya Gerah.
Sekian Wasalamu'alaikum wr. wb
Komentar
Fikar: OKE